Minggu, 05 Agustus 2018
Backpacker-an ke Bandung
Waahhh... Kurang lebih sudah 3 tahun blog ini di anggurin ya, gak berasa. Bahkan anak saya usianya sudah 1,5 tahun dan udah mau punya adik lagi. Hehee... Lama juga ya. Time flies so fast...
To the point aja deh, kali ini saya mau sharing tentang perjalanan singkat saya kemarin ke Bandung bertiga dengan suami dan anak saya yg usianya baru 18 bulan. Jadi intinya saya gak mau perjalanan kemarin terlupakan begitu saja, plus supaya ada faedahnya saya juga mau sharing sama temen2 semua, makanya saya tulis disini. Langsung aja yaa...
Planning :
Awalnya saya pribadi merasa sdh lama sekali gak ngajak anak saya piknik atau jalan2 non mall dan keluar kota, terakhir sekitar 5 bulan yg lalu kita ke Kuntum Farmfield Bogor bareng sama mbah uti dan mbah akung. Jadi kayaknya butuh refreshing lagi. Nah, entah kenapa otak langsung mengarahkan saya untuk memikirkan kota Bandung, dan kalo ke Bandung agaknya harus menginap. Namanya emak2 ya, gerakannya cepet beneerr.... Langsung deh cek2 penginapan budget alias murah, tiket kereta, destinasi wisata yg bisa dikunjungin sampe tempat rental motor buat mobilitas selama disana. Tanpa mikirin tuh rencana bakal di setujuin apa gak sama suami, lanjuuuutt aja.... Setelah ngantongin semua informasi yg dibutuhin, tiba waktunya buat minta izin ke suami, alhamdulillah doi langsung setuju, jarang2 ini, biasanya kudu ngeluarin rayuan maut dulu, itupun seringnya malah gak disetujuin. 😬 ok, suami udah setuju, tanggal berangkat juga udah fix, lanjut booking2 ngajuin cuti ke tempat kerja masing2 and all planning done.
Day 1 :
Sampailah kita pada hari keberangkatan, tepatnya jumat, 3 Agustus 2018. Kita ke Bandung naik kereta argo parahyangan kelas ekonomi. Eeiittt... Jangan under estimate economic class nya argo parahyangan lhooo... Walau kelasnya ekonomi tapi suerrr nyaman banget nih kereta, terbukti orang2 yg naik bukan cuma kalangan backpacker aja tapi kalangan koper juga banyak yg pilih naik di kelas ini. Saya sengaja pilih keberangkatan paling pagi yaitu pkl 05.37 dari stasiun Bekasi, biar sampe Bandung gak kesiangan yaitu sekitar 08.39 kita sudah sampai di stasiun Bandung. Oia, dari rumah kita berangkat naik motor sebelum subuh, titip motor di tempat penitipan motor, kita mutusin untuk shalat subuh di stasiun aja supaya gak terlalu mepet. Sampai stasiun Bekasi sudah penuh dengan orang yg mau berangkat kerja, seperti biasa beberapa dr mereka ada yg sudah harus lari2 ngejar jadwal commuter line, padahal belum subuh lhooo itu... Betapa kerasnya hidup di perkotaan yaa... Lanjuutt...
Setelah shalat langsung boarding dan gak lama kereta nya datang, waktu kedatangan sesuai dengan yg tercantum di tiket, anak saya senang sekali lihat kereta nya sdh sampai, lalu kita naik. Waahhh... Nyamaaaannn... Awalnya saya pikir yg naik di jam segitu gak terlalu ramai, karena kan masih pagi banget ya, eh ternyata ramai juga, bahkan hampir penuh tiap gerbongnya.
Sampai stasiun Bandung suami minta duduk2 dulu di peron, dia juga pesan kopi, maklum doi penikmat kopi jadi pagi2 boosternya kopi. Sambil jagain anak yg antusias pengen deketin kereta/lokomotif yg lalu lalang, saya sesekali tarik nafas panjang sekedar ingin menikmati udara Bandung lebih dalam. Selesai ngopi, sy lgsg pesan taksi online untuk mencapai penginapan dan gak butuh waktu lama kita pun sampai di penginapan, hanya sekitar 10 menit dari stasiun. Karena kita sampai sebelum waktu check in, kita titip tas dan barang bawaan lain di ruang tamu. Di guesthouse tempat kita menginap memang memperbolehkan titip tas jika datang sebelum waktu check in, namun belum bisa masuk ke kamar yg kita sewa. Setelah titip tas kita lgsg disodorkan kunci dan stnk motor yg kita sewa, btw penginapan ini menyediakan sewa motor khusus bagi yg menginap saja, harga sewanya juga lebih murah jauh dibanding sewa di tempat rental khusus motor/mobil di wilayah Bandung, yeeayy....mamak happy...
Setelah motor siap kitapun juga siap berpetualang, tujuan pertama adalah ke Farmhouse susu Lembang. Berbekal google map dan tanya tukang tambal ban, akhirnya kita pun sampai.
Minggu, 10 April 2016
Sabtu, 22 Agustus 2015
♡★ PASSPORT IS THE PASSWORD ★♡
Sepenggal kalimat diatas agaknya mampu mewakili apa yang kurasakan, dan mungkin beberapa kawan lain yang tak jarang menghadapi penolakan dari sahabat, teman atau bahkan keluarga.
"Haah..., mau ke luar negeri lagi, Ngapain sih? Ngabis2in duit aja."
"Ya ampuuun... ngapain ke luar negeri segala sih, Indonesia juga banyak tujuan wisatanya, gak kalah bagus sama di luar negeri, cinta Indonesia donk."
"Ngapain ke luar negeri, ngasih devisa buat orang lain, negara sendiri aja lagi kekurangan devisa."
Dan masih banyak lagi, penolakan orang2 sekitar.
Fiiuuhh... untung hati ini buatan Allah, kalau aja made in china mungkin udah hancur berkeping-keping. Tapi apa yang membuat kami terus bergerak? Yaitu untuk Sebuah perubahan. Ya, karena result kami bukan hanya sekedar jalan2, buang uang, atau beli barang mewah disana. Hasil yang ingin kita capai lebih dari itu, sebuah karakter bangsa yang berakhlak dan tidak kerdil dimasa depan. Sebuah bangsa yang didalamnya terdapat pemimpin yang tidak steril dan sempit.
Memang terdengar berlebihan, masa' cuma dengan ke luar negeri bisa membuat bangsa menjadi berkarakter sih. Ya, awalnya aku juga merasa begitu, sampai akhirnya kami menemukan ternyata bukan hanya kami yang berpikir seperti itu.
Ternyata Prof. Rhenald Kasali sang pendiri RUMAH PERUBAHAN itu pun sepemikiran dengan kami. Ya, guru besar Universitas Indonesia ini ternyata menggunakan metode "Paspor" dalam mata kuliah yang diajarnya. Awalnya metode ini pun sulit diterima oleh para orang tua maupun teman sesama dosen. Namun, beliau yakin bahwa melalui metode ini mahasiswa bisa men-drive diri atau self mereka sehingga mampu mencari dan menemukan "pintu keluar" dari kesulitan yang mereka hadapi sehari-hari. Namun, tradisi kita ternyata jauh dari harapan itu, kita lebih banyak membentuk mereka menjadi "passengers" ketimbang "drivers". Ya, karena itulah kami di Sekolah Alam Jingga Lifeschool dan tentu Prof. Rhenald merasa perlu melakukan perubahan.
Kalau di kelasnya, sang profesor menugaskan para mahasiswa untuk mengurus paspor mereka masing2 sejak minggu pertama mereka kuliah dan langsung memerintahkan untuk berangkat ke negara yang tidak berbahasa melayu melainkan negeri yang jauh dari negeri kelahirannya. Kami berbeda, orang tua murid kami sodorkan program edu-trip sejak awal semester kemarin, karena anak2 masih dibawah umur maka orang tuanya lah yang memutuskan untuk mengikuti program ini atau tidak. Untuk paspor, kami bantu untuk mendaftarkannya via website saja.
Dan tarraaa.... sebuah paspor sudah berada di tangan mereka saat ini. Persis kemarin, hari jumat, di sekolah, seorang anak bertubuh tambun dengan bangga datang kepada saya.
"Bu, bu Yuni...!!! Ini......"
Ia pun menyodorkan sebuah buku berwarna hijau tosca eye catching yang berjudul paspor itu ke saya.
"Oohh sudah jadi ya punya kamu? Sini, ibu lihat." Jawabku menimpali.
Ia tak mampu menyembunyikan rasa bangga bercampur bahagia kala menyodorkan paspor baru nya itu. Tentu, rasa itupun langsung saja merembet kedalam hatiku.
Passport is the password, ya memang begitu. Paspor adalah izin memasuki dunia yang baru, dunia global. Tanpa paspor manusia akan kesepian, terkurung dalam kesempitan, lalu menjadi manusia2 yang steril.
Setelah itu, tentu akan muncul pertanyaan ini. "Uang untuk beli tiket beserta akomodasinya darimana?"
Ini jawaban dari sang profesor untuk pertanyaan diatas.
"Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa dan tidak mungkin. Bagi mereka yang yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa amat jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang tak terbayangkan: pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom."
Untuk anak-anak ku, selamat menjelajahi dunia dengan paspor-paspor baru kalian. Semoga pengalaman kalian mampu memotivasi dan menjadi booster atau penggugah bagi kawan-kawan agar terbebas dari belenggu yang selama ini mengikat kaki dan tangan mereka.
Semoga bermanfaat...
Sumber penulisan:
1. "30 paspor di kelas sang profesor" oleh J.S. Khairen
2. Pengalaman nyata sehari-hari di sekolah alam jingga.
Tim Jingga Edutrip :
Febi Jingga
Ana Nauri
Ria Djusnita
Yuni Khumaira Azzahra
Penasehat :
Ari Maryadi
Sabtu, 07 Maret 2015
Jingga, rahasia kebugaran tubuh saya
Kalau dulu saya paling rajin kena flu, setidaknya dalam 1 bulan bisa 2 kali izin gak masuk kerja karena sakit. Namun, 3 bulan belakangan setelah bergabung dengan Jingga saya merasa ada banyak perubahan pada kesehatan saya. Saya merasa lebih bugar dan lebih sehat dari sebelumnya. In syaa Allah... aamiiinn....
Betapa tidak, kalau di hitung2 minimal dalam seminggu saya sudah melakukan gerak jalan sejauh kurang lebih 2 sampai 3 km. Fiiuuuuhhh... sungguh luar biasa bukan? Atau biasa saja? Whatever lah yaa.... Terhitung mulai dari keluar kereta saya harus berjalan sekitar 100-200 meter menuju pintu keluar stasiun, dilanjutkan saat turun dari angkot masih harus berjalan sekitar 300 meter lagi menuju sekolah. Itu saya lakukan rutin setiap hari.
Kalau dalam olah raga angkat besi, beban bisa ditambah atau dikurangi mengikuti kemampuan si atlet. Disini beban bisa bertambah kapanpun, tak terduga, bahkan saat kita belum siap sekalipun. Tambahan beban itu bisa berupa hujan yang turun tiba2, sehingga membuat akses jalan becek atau bahkan banjir. Karena itu langkah pun terasa semakin berat, menuntut seluruh anggota badan untuk mengeluarkan energi lebih agar tercipta sebuah gerakan.Tak jarang sebelum sampai sekolah, nafas sudah terengah, wajah pun terlihat gerah.
Dari situ, saya menarik kesimpulan bahwa perjuangan saya untuk sampai ke Jingga sedikit banyak telah memberi efek pada kesehatan tubuh saya. Setidaknya bagi otot2 saya yang selama ini mungkin loyo karena kemana2 selalu berkendara, itupun posisinya sebagai boncengers atau nebengers yang mana kewajibannya hanya duduk manis lalu sampai. Hihihuhu...
Disamping itu, perasaan senang kala bertemu anak2 yang lucu setiap hari menambah energi positif yang secara tidak langsung ber-efek juga terhadap kesehatan rohani saya. Sudah banyak artikel yang membahas bahwa kesehatan rohani juga sangat berpengaruh pada kesehatan jasmani.
Namun yang paling penting dari itu semua adalah ganjaran pahala dari Allah swt, tiap langkah kita in syaa allah akan menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari pembalasan nanti.
Sungguh paling baik urusan orang beriman itu, jika ia mendapat kesusahan maka ia bersabar, jika ia mendapat kenikmatan ia bersyukur.
Demikianlah rahasia kesehatan saya, semoga bisa menginspirasi sahabat semua.
Allahu a'lam bish showab...
Matahari itu berwarna Jingga
Aku yang dalam kurun waktu 2 tahun belakangan memang sedang memperhatikan dunia pendidikan, agak tergelitik untuk tau lebih jauh tentang konsep sekolah alam ini. Tapi, rasa ingin tau yang kumiliki saat itu tak cukup kuat melawan intensitas kesibukan yang luar biasa mendera, mulai dari sibuk kuliah, persiapan pernikahan, ditambah musibah yang menimpa keluarga kami pada pertengahan tahun 2013 yang lalu sedikit banyak menuntut agar aku tetap fokus pada track. Penasaran tinggallah penasaran, aku mulai lupa kalau sebelumnya sempet antusias cari tahu tentang sekolah alam. Bener-bener lupa...
Emang bener ya, sebuah niat atau keinginan tulus yang udah diucapin dalam hati terdalam seorang manusia itu “mungkin” bisa meluluhkan Allah untuk segera mewujudkannya. Yang penting tulus, itu aja. Berawal dari kegalauan tentang pekerjaan saat itu dan rutinitas yang didominasi oleh kepentingan duniawi sering kali membuat saya resah. Resah, apakah saya akan terus seperti ini? Bekerja dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang ibadah wajib pun terbengkalai. Kalau sudah begitu bagaimana bisa meraih keberkahan dari uang yang diterima?. Resah, karena sebentar lagi aku akan menikah? Loooh... mau nikah kok malah resah. Harusnya bersyukur donk pas nikah udah punya kerjaan sendiri, jadi gak pusing lagi mikirin pemasukan buat keluarga. Apalagi kalo calon suami juga bekerja, jadi tambah enjoy.
Semakin mendekati pernikahan, aku semakin membulatkan tekad untuk segera mengambil keputusan apakah aku harus melanjutkan pekerjaan saat itu atau mencari pekerjaan lain yang lebih friendly khususnya soal waktu. Terlintas di pikiran untuk banting setir menjadi guru, sebenernya niat jadi guru sudah lama, tapi baru kali ini aku benar2 meng-organisir pemikiran, sampai2 mencari tahu tentang persyaratan menjadi guru, mengikuti salah satu forum diskusi guru di facebook dan me-like fanpage lowongan kerja guru. Mulai saat itu aku kebanjiran notifikasi yang berisi tentang informasi lowongan sebagai guru, mulai dari guru privat hingga guru kelas. Tentu saja tanpa buang waktu langsung share CV serta ijazah ke beberapa alamat email yang sedang membuka recruitment menjadi guru. Nah,,,, salah satu sekolah yang sedang open recruitment adalah Sekolah Alam Jingga yang sudah lama aku lupakan itu. Tiba-tiba saja ingatanku mengalir ke belakang, “Oooohhh ini Sekolah Alam yang deket rumah itu kan? Wah, jangan sampe kelewat nih”. Sambil senyum-senyum semangat.
Singkat cerita, satu bulan setelah menikah aku mulai bekerja di Sekolah ini, tentu saja setelah mengundurkan diri dari pekerjaan yang lama. Semua urusan disana sudah aku selesaikan, alhamdulillah prosesnya pun dimudahkan. Awalnya aku berpikir atasanku yang notabene adalah seorang ex-patriat yang keras akan mempersulit proses pengunduran diriku. Namun diluar dugaan, justru beliau langsung menyetujuinya. Aku pun merasa takjub melihat kenyataan yang tidak disangka-sangka ini. Hal ini pula lah yang membuatku semakin yakin bahwa Allah me ridhoi apa yang sudah aku putuskan. Ditambah izin dari suami pun sudah di kantongi. Tak terbayang betapa bahagianya aku kala itu.
Matahari itu berwarna Jingga...
Sekolah Alam Jingga, itu nama sekolah yang menjadi tempat baruku mengais rezeki. Subhanallah...Sungguh apa yang aku impikan tentang suasana kerja yang islami, edukatif, berpendidikan, namun jauh dari kesan hanya mengejar dunia langsung aku rasakan. Disini tidak ada atasan dan bawahan, semua memiliki hak yang sama. Murid-murid pun bergaul dengan sesama teman sekelasnya juga berteman akrab dengan yang bukan teman sekelasnya. Seakan tidak ada jarak diantara mereka, tidak ada senioritas maupun junioritas. Semua belajar, bermain dan berkumpul bersama-sama.
Rasanya, matahari bersinar lebih terang pagi itu, berwarna jingga cerah. A New Hope telah hadir, disinilah impian akan terwujud. Disinilah aku akan membangun batu bata peradaban. (nyontek kata-kata nya pak Isnan) Hehehe... generasi islami terbaik akan lahir dari sini, dari sebuah sekolah alam di ujung jalan perjuangan. Dan aku..... akan menjadi salah satu manusia yang tersenyum bangga di masa tuanya, jika salah satu dari generasi terbaik itu muncul di permukaan sebagai pribadi yang hebat di mata dunia. Tak tanggung-tanggung, Allah pun akan mengganjar dengan cahaya (pahala) yang tiada henti-hentinya atas nilai-nilai kebaikan yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah aku tanamkan kepada mereka. Bahkan cahaya itu akan menerangi sampai ke liang lahatku. Betapa ini yang di idam-idamkan. Hidup di dunia ini akan berakhir dengan kematian, dan kematian yang indah adalah idaman setiap orang beriman.
Jingga, a journey to heaven....
Jingga, sebuah perjalanan menuju surga...
Semoga bermanfaat
Rabu, 04 Maret 2015
Jingga Literary Club : Chapter 1
Masuk ke materi, saat saya buka slide dan mereka lihat di layar hanya ada tulisan "anak nakal, kepala sekolah dan pemilik kebun". Mereka bertanya, "apaan sih itu bu?" Namun tidak saya jawab. Agar mereka semakin penasaran saya lanjut ke slide berikutnya, terlihat gambar seperti dibawah ini.
Semakin banyaklah komentar mereka, " itu nenek sihir ya bu?" Ada juga yg bilang, "saya tahu, itu kepala sekolahnya adalah tukang sihir, terus anak2 muridnya di sihir biar pada naik pohon". Sungguh luar biasa imajinasi mereka. Ya, memang sekilas ada satu karakter yang mirip dengan nenek sihir. Namun, sebenarnya itu adalah sosok kepala sekolah yang sedang menegur anak2 muridnya.
Saya melanjutkan ke slide berikutnya, mulai terlihat isi cerita nya. "Ayo, siapa yang mau bantu ibu untuk bacain ceritanya ke depan?", "saya bu..." sambil mengacungkan jari si anak bawang (karena dia paling kecil dibanding peserta lain) terlihat sangat siap untuk membaca cerita.
Setelah membaca sampai kalimat terakhir, saya memerintahkan mereka untuk melanjutkan cerita tersebut dengan imajinasi mereka masing-masing. Subhanallah, ternyata luar biasa imajinasi mereka. Mereka mampu menuliskan pengembangan cerita tersebut dengan cara mereka masing2. Walau harus dengan beberapa arahan dan stimulasi terlebih dahulu agar imajinasi mereka semakin berkembang. Namun, secara umum mereka telah mampu mengembangkan ceritanya dengan cukup baik.
Di akhir, saya memerintahkan mereka untuk menyebutkan apa makna dan pesan dari cerita yang mereka kembangkan tersebut.
Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan bisa berada di tengah2 mereka. Canda tawa, kelucuan demi kelucuan yang diciptakan oleh mereka mampu membuat saya merasa bahagia, sejenak melupakan hal-hal yang menjadi beban pikiran.
Ehhhmmm... inilah impian saya. Sederhana, namun penuh makna.
Kamis, 19 Februari 2015
SURGA DIMANA-MANA
Memang tak akan pernah habis jika membahas tentang surga, saya yakin wakaupun setiap kita belum pernah melihat surga namun sebagai muslim merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk mempercayai hal-hal yang ghaib. Betapa kita sangat bahagia ketika membaca sebuah ayat dalam Al Quran yang mendeskripsikan tentang makhluk Allah yang satu ini. Angan-angan kita melayang tak tentu arah membayangkan keindahan surga yang diciptakan oleh Allah khusus bagi jiwa-jiwa yang beriman dan taat. Sungai yang mengalir, pepohonan rindang nan hijau, ditambah bidadari-bidadari cantik, itulah yang sering kita bayangkan ketika mendengar kata surga. Subhanallah...
Tahukah kita? Ternyata surga itu ada dimana-mana dan justru sangat dekat dengan kita. Secara harafiah, ketika mendengar ini mungkin ada sedikit penolakan dalam benak kita. Namun, jika kita mau sedikit saja membuka mata, ternyata rumah kontrakan kita pun bisa menjadi surga, aahhh... bercanda. Ya, memang terdengar bercanda tapi sungguh ini bukanlah guyonan semata, ini benar-benar nyata. Betapa tidak, bukankah setiap manusia yang ada didalam rumah kontrakan itu adalah manusia yang in syaa Allah sama dengan yang akan kita temui di surga? Bagaimana dengan ibu? Ayah? Tak maukah kita bertemu dengan mereka di surga kelak? Tentu sangat mau bukan? Begitupun dengan suami, istri serta anak yang amat kita cintai. Mereka lah yang menjadi surga kita.
Sadarilah, apapun yang kita lakukan di dunia ini haruslah bermuara pada keinginan menuju surganya Allah. Ketika kita berbicara tentang surga disertai dengan keinginan kita untuk memasukinya, maka semua komponen dalam hidup kita bisa menjadi sebuah inspirasi sekaligus objek atau sarana kita menuju surganya Allah. Bahkan Allah sendiri berfirman bahwa manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepadaNya. Kita semua tahu, makna dari ibadah adalah bentuk pengabdian kepada Allah yang mana ketika kita benar-benar mengabdikan diri kita, disitulah Allah akan memberikan rahmatNya.
Rahmat Allah tidak melulu soal materi, justru rahmat atau bentuk kasih sayang terbesar dari Allah adalah kita di perkenankan untuk memasuki surgaNya. Maka, selayaknya itulah yang seharusnya kita cari dan menjadi goal terbesar kita di dunia ini. Ketika kita bekerja, mengajar, berjalan, makan, mandi, bahkan tidur, niatkanlah surga dalam hati. Jika sesuatu yang besar (surga) telah kita niatkan dalam hati pada setiap kegiatan kita, dengan begitu hasilnya pun akan besar. Mungkin akan berbeda ceritanya jika niat kita bekerja atau melakukan kegiatan hanya sekedar untuk sebuah materi, misal ingin punya mobil, ingin punya rumah, ingin punya tv, ingin terkenal dsb, maka hanya itulah yang kita dapat. Materi dapat, surga belum tentu dapat. Tapi jika niat kita bekerja karena ingin surga, in syaa allah surga dapat materi pun dapat. Aaamiinnn... Mudah bukan?
Surga itu ada dimana-mana, Ayah ibu kita surga, suami istri kita surga, anak kita surga, tetangga kita surga, saudara kita surga, cucu kita surga, orang yang kita beri tempat duduk didalam kereta juga surga, atasan kita surga, anak buah kita surga, sahabat kita surga, anaknya sahabat kita surga, bahkan binatang peliharaan kita pun bisa menjadi sarana kita mendapatkan surga, dan masih banyak lagi, subhanallah.....
Manusia memang gemarnya membatas-batasi dan mengkotak-kotakkan sesuatu, bahkan yang sesuai fitrah saja sering kita tidak sadar sudah mengkotak-kotakkanya. Contoh, dalam dunia pendidikan saja, kita dengan sombongnya mengatakan bahwa anak yang pintar hanya anak yang nilai matematikanya 9, sedangkan yang nilainya dibawah 5 adalah anak bodoh, astagfirullah... anak didik kita juga manusia ciptaan Allah bukan? Lalu mengapa kita dengan seenaknya mengatakan mereka bodoh hanya karena nilai matematika. Padahal mungkin saja, Allah telah memberikan satu gen didalam darahnya adalah gen seorang pekerja seni yang hebat saat dia dewasa nanti. Sebagai manusia, sering kita di lalaikan oleh urusan duniawi sehingga waktu untuk men-tafakur-i makhluk ciptaan Allah yang bernama “anak” saja kita tidak sempat. Padahal berapa banyak yang bisa kita ambil pelajarannya dari satu orang anak saja.
Balik lagi ke masalah surga, mengapa saya begitu antusias ketika membicarakan tentang anak? Hal ini dikarenakan saya baru menyadari bahwa anak adalah sarana terbesar kita untuk mendapatkan surga setelah ibu, namun sekaligus neraka buat kita jika tidak menjalankan amanah yang Allah berikan. Jangan sampai hanya karena urusan duniawi, surga kita justru terbengkalai, tak terurus. Khususnya bagi para ibu, yuk cobalah ikhlaskan dan niatkan hati kita untuk segara menuju ke fitrah. Allah tidak akan pernah menzhalimi makhlukNya. Tak cukupkah merasakan betapa Allah sangat sayang dengan kita, kita dihidupkan sampai sebesar dan sehebat ini juga tak lepas dari kasih sayang Allah. Mengapa hanya demi segelintir kertas ber nominal dan hidup mewah kita tega menentangNya? Allah tidak akan bertanya berapa besar pendapatan kita atau setinggi apa jabatan kita, maka jangan sampai kita mengejar itu semua dengan tetesan darah dan keringat sedangkan yang jelas-jelas diamanahkan dan jelas-jelas akan dimintai pertanggung jawabannya malah kita abaikan.
Sadarilah, bahwa semua komponen yang ada disekitar kita mulai dari yang menempel di tubuh kita sampai yang ada di seberang lautan semuanya adalah sarana kita mendapatkan rahmat terbesar Allah, yaitu surga. Tak akan pernah selesai jika kita harus menyebutkannya satu persatu karena begitu melimpahnya sarana itu. Hanya butuh keikhlasan hati ditambah keimanan untuk meyakininya. Semoga kita semua selalu diberikan kemudahan dalam beribadah serta senantiasa dalam naungan Allah SWT. Aammiiiinnn...
Minggu, 02 November 2014
Semakin bus ini melaju, semakin hilang semangatku
Tapi dibalik itu semua, aku mendapati bahwa kenyataanya keluargaku bukanlah keluarga berada, orang tuaku menyampaikan bahwa mereka tidak akan sanggup membayar biaya kuliahku nanti. Aku langsung terpuruk kala itu, mamun dengan sisa-sisa semangat yang masih ada, aku mulai bangkit dari keterpurukan. Beberapa hari setelah menerima hasil kelulusan, Bapak memintaku untuk membuat sebuah surat lamaran pekerjaan. Sesuai informasi bahwa mantan bos Bapak sedang mebutuhkan sekretaris. Aku terhenyak, Sekretaris...???? yang bener pak? , ucapku. Seketika itu pikiranku melayang pada suatu keadaan dimana aku akan menggunakan pakaian necis dan sepatu hak tinggi setiap kali pergi ke kantor. Singkat cerita, setelah itu aku langsung diterima bekerja, Subhanallah wal hamdulillah... ucapku. Ternyata Allah menjawab semua keinginanku, inilah yang aku impikan selama ini. Bisa bekerja disebuah perusahaan yang terbilang bonafit, lokasinya pun di kawasan perkantoran mewah di bilangan Jakarta Pusat, gedung-gedung mewah pencakar langit menjadi pemandanganku setiap hari.
Beberapa minggu bekerja aku mulai menikmati keadaan. Namun, keadaan berubah ketika memasuki bulan kedua. Aku mulai merasakan tekanan dalam bekerja, atasan dan seniorku mulai banyak mendikte pekerjaanku. Aku mulai jenuh dengan rutinitas itu. Setelah berpikir panjang akhirnya aku putuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan itu. Singkat cerita, aku pindah bekerja ditempat lain dan akhirnya impianku untuk kuliah pun terwujud. Aku membiayai kuliahku dari gaji bulanan yang aku terima.
Masuk ke dunia kampus, membuatku semakin banyak koneksi dan informasi mengenai dunia kerja. Hingga suatu hari, aku ditawari untuk bekerja disebuah perusahaan dimana staf HRD nya adalah teman sekelasku. Entah mengapa tanpa pikir panjang aku langsung menerima tawaran itu, seolah-olah aku punya pandangan bahwa rezekiku banyak berada disana. Dengan modal nekat aku memutuskan untuk menerima tawaran itu dan bekerja di divisi Marketing. Walau temanku sempat bercerita divisi ini adalah divisi yang cukup menyeramkan karena managernya adalah orang Jepang langsung, juga pressure dari customer dan atasan bisa saja tiba-tiba membuat kita terkena penyakit thypus. Hahahaaaa....
Benar saja, baru sebulan bekerja di divisi ini aku langsung dirawat dirumah sakit karena demam berdarah. Dengan sedikit terpaksa aku mulai menikmati pekerjaanku sebagai marketing, namun hati seperti tidak bisa sepenuhnya aku berikan pada pekerjaan ini. Sempat pada satu pagi didalam bus jemputan karyawan aku berkata dalam hati Yaa Allah... sungguh semakin bus ini melaju, semakin hilang semangatku. Rasanya aku tidak ingin cepat-cepat sampai di tempat kerja. Saat ini aku hanya bisa berserah diri kepada Allah, berpikir positif setiap hari, tersenyum pada rekan-rekan sekerja, dan selalu bercanda bersama mereka. Yaa,, mungkin hal-hal semacam itu yang membuatku bisa bertahan hingga detik ini.
Sampai suatu hari, untuk sekedar menghilangkan kejenuhan pada masa libur panjang idul fitri, aku menemukan satu ide untuk membuat sebuah blog pribadi. Karena aku gemar sekali berbagi melalui sebuah tulisan. Jujur, aku tergolong orang yang cukup sulit menggunakan skill verbalku. Mungkin hal ini pula lah yang membuatku lebih nyaman mengirim email kepada rekan kerja atau customer ketimbang berbicara langsung atau melalui telpon kepada mereka jika ada sesuatu yang ingin kusampaikan.
Setelah memiliki blog pribadi aku merasa senang sekali, tanpa diduga sebuah tulisanku membawaku menjadi pemenang sebuah lomba menulis. Sejak saat itu aku seperti menemukan gairah hidupku kembali yang sudah bertahun-tahun hilang. Aku semakin tidak bisa membohongi diriku bahwa passionku adalah menulis, karena dengan menulis aku bisa bebas meng-aktualisasi-kan diriku. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan lebih jujur. Akupun berencana untuk menekuni dan belajar lebih banyak mengenai dunia menulis. Aku berharap suatu saat bisa menjadi seorang penulis hebat yang karyanya bisa berguna bagi pembaca.
Sebagai seorang muslim aku sangat memahami bahwa yang kita bawa ke akhirat nanti hanyalah 3 perkara. Yaitu, shadaqoh jariyah, doa anak yang soleh dan ilmu yang bermanfaat. Saat ini aku sedang mengusahakan ketiganya dan pada bagian ilmu yang bermanfaat bisa aku salurkan melalui passionku ini, yaitu menulis. Karena dengan menulis aku bisa berbagi ilmu yang in syaa Allah bermanfaat bagi orang lain.
Satu hal yang perlu diingat ketika kita percaya bisa melakukan sesuatu, dan yakin dengan melakukan sesuatu itu kita bisa menjadi hebat, maka percayalah bahwa sesuatu itu adalah passion.
Semoga bermanfaat.
Rabu, 17 September 2014
SURAT UNTUK JOKOWI
Jumat, 01 Agustus 2014
Mari persiapkan Khusnul Khotimah!!!
Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Ya Allah ya rahiim...Tak henti-hentinya diri ini mengucap syukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan sampai detik ini. Sungguh besar kuasaMu atas alam ini dan seisinya, tak ada daya dan upaya selain dariMu.
Ya Allah... tetapkanlah nikmat iman dan islam sampai akhir hayat kami, jadikanlah akhir hidup kami adalah akhir yang indah, yang baik serta dipenuhi cahaya keimanan. Mudahkanlah kami mengucap kalimat Laa Ilaaha Illallah saat maut menjemput, jangan kau biarkan Syaitan menggoyahkan keimanan kami.
Sungguh saat itu adalah saat yang amat menyakitkan, maka kuatkanlah kami.
Saat itu adalah saat yang menyulitkan, maka mudahkanlah kami.
Saat itu adalah penanda apakah kami berhak menerima surgaMu atau NerakaMu.
Saat itu adalah saat dimana syaitan mengeluarkan segala daya upayanya yang terbaik untuk menyesatkan kami agar menjadi kafir, maka berikanlah kekuatan untuk kami menolak ajakan Syaitan.
Yaa Allah... sungguh berat siksaanMu, sungguh pedih azabMu, bahkan membayangkannya pun kami tak sanggup.
Semoga kita semua di matikan dalam keaadaan khusnul khatimah, Aamiinn...
Sahabat yang dimuliakan oleh Allah...
Semoga rangkaian doa diatas membuat hati kita yang awalnya keras menjadi lembut, ingat akan hakikat hidup yang sesungguhnya.
Betapa dunia ini telah menyilaukan kita, melalaikan kita sehingga lupa akan tujuan hidup dan apa maksud dari penciptaan manusia yang sesungguhnya.
Mungkin tema diatas sangat berat untuk dibahas apalagi bagi saya seorang yang fakir ilmu. Namun, dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, tak menghilangkan niat saya untuk tetap berbagi dan saling mengingatkan pada kebenaran tanpa bermaksud untuk menggurui.
Saya ingat, beberapa minggu yang lalu saat pertengahan bulan ramadhan saya berkesempatan bertemu dengan salah seorang teman untuk buka puasa bersama, tepat di hari pemilihan umum presiden tanggal 9 Juli 2014. Dia datang dengan suaminya dan bayi nya yang lucu, usia bayi nya masih kurang dari setahun tapi saya lupa tepatnya berapa bulan. Sambil menyantap hidangan kami bercerita banyak hal, namun tentu tak jauh dari soal agama islam. Maklum, suami temanku itu memang seorang calon ustadz sepertinya, hehehe... Aamiinn...
Dalam salah satu ceritanya dia menyinggung soal hakikat hidup dan kematian... hhuuu... seereemm... kalo nyeritainya di tempat umum kayak gitu sih gak serem, tapi lain cerita mungkin kalau ditengah kuburan.
Dari cerita itu terlontar pertanyaan dari saya kurang lebih seperti ini "jadi, khusnul khotimah itu takdir atau bukan, atau kita harus mengusahakannya?"
Jawabannya, ternyata khusnul khatimah atau su'ul khatimah itu bukan takdir atau lebih tepatnya mungkin bukan takdir hakiki, kalaupun memang sebenarnya kita sudah ditakdirkan su'ul khatimah kita bisa mengusahakannya agar bisa menjadi khusnul khatimah, penentuan itu lebih kepada jalan hidup seperti apa yang kita pilih selama ini. Pendekatan seperti ini mungkin yang paling gampang saya cerna. Namun, tak menutup kemungkinan ketika saya menemui pendekatan yang lebih masuk akal dan lebih baik dari ini saya akan merubahnya.
Jadi selama ini salah kalau masih ada yang berpikiran "hidup ga usah terlalu lurus, santai aja toh yang tau kematian kita hanya Allah, yang baik bisa jadi jahat atau sebaliknya yang jahat juga bisa jadi baik, cuma Allah yang tau kita gak usah banyak cincong laahh... ribet. Hidup udah susah gak usah dibuat makin susah, santai aja. Yang penting kita hidup gak nyusahin orang dan baik sama orang lain, udah cukup".
Saya juga sering mendengar kalimat seperti ini "muda foya foya, tua kaya raya, mati masuk surga" astagfirullah... dari kalimat itu tersirat betapa harta menjadi tujuan utama , tak penting beribadah kepada Allah, padahal Allah tidak pernah menjanjikan surgaNya karena harta yang dimiliki, melainkan karena ketakwaan kita kepada Allah. kalaupun ada janji Allah adalah untuk harta yang di sedekahkan bukan untuk yang di foya foya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Allah sangat membenci orang yang berlebih-lebihan membelanjakan hartanya untuk urusan duniawi, kecuali di sedekahkan di jalan Allah.
Jujur setiap kali saya mendengar kata2 seperti diatas baik dari sahabat, rekan kerja atau terkadang dari sinetron (koban sinetron, dulu sih sekarang udah gak, gak terlalu banyak tapi masih sedikit maksudnya, hehehe...) saya langsung tergelitik untuk mengomentari, baik komentar yang langsung diucapkan ataupun hanya didalam hati. Karena jika prinsip hidup kita hanya berdasarkan yang penting baik dan tidak jahat tanpa mengindahkan perintah Allah yang lain tentang beribadah, menjauhi yang haram, menutup aurat dll, lalu untuk apa Allah menurunkan Al qur'an, cukuplah Allah memberikan kita insting untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, that's it. Cukuplah kita berhubungan dengan sesama manusia saja (habluminannas) tanpa memikirkan bagaimana caranya berhubungan dengan Allah sang pencipta (Habluminallah).
Namun kenyataannya tidak seperti itu, dengan kasih sayangNya Allah telah menurunkan Al qur'an sebagai petunjuk agar kita dapat menentukan jalan mana yang akan kita ambil, karena setiap titik dan detik kehidupan yang kita lalui berisi berbagai macam pilihan.
Mungkin mudahnya seperti ini jika kita sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Kita hanya boleh memilih satu jalan, kita tidak pernah tahu apa yang ada di sepanjang jalan-jalan tersebut. Sekali kita memilih salah satu jalan yang kita inginkan, kita tidak bisa kembali. Setiap jalan berakhir pada ujung yang berbeda. Adakalanya, di jalan yang kita pilih, kita dihadapkan lagi dengan persimpangan lain. Terus seperti itu. Suka atau tidak suka dengan ‘pemandangan’ dan ‘fasilitas’ yang ada di jalan yang kita pilih, itulah pilihan kita. Itulah takdir kita. Masalahnya adalah kita dituntut untuk memilih jalan yang benar, jika pilihan kita salah, maka dipastikan kita akan menyesal selamanya. Nah, untuk memilih jalan yang benar tersebut, Allah sudah menempatkan petunjukNya melalui Al qur'an. Seringkali kita sudah tahu tentang petunjuk tersebut, tapi kita sering mengabaikan petunjuk tersebut. Inilah yang menjadikan seseorang tersesat di suatu jalan.
Sebagaiman dijelaskan dalam surat al-kahfi ayat 29 :
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir".
Misal, kita menemukan sebuah uang Rp 100.000 dijalan, banyak kemungkinan yang bisa kita lakukan bukan?. Kita bisa mengambil koin tersebut, hanya melihatnya dan terus berjalan, mengambilnya lalu menanyakan kepada orang sekitar siapa pemiliknya atau malah menendangnya kepinggir jalan. Setelah pilihan ditentukan mungkin kita akan dihadapkan pada pilihan kedua. contoh, Jika kita memilih untuk mengambilnya setelah itu banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, bisa kita gunakan untuk sedekah, beli minuman, bayar angkot, untuk berjudi dsb. Namun jika kita memutuskan untuk melihatnya dan terus berjalan, tentu hasilnya belum tentu sama dan mungkin kita tidak akan dihadapkan pada pilihan yang kedua.
Kita juga sering mendengar cerita tentang seorang pelacur yang bisa masuk surga hanya karena memberi makan seekor anjing yang kelaparan, mungkin itu agak melegakan bagi kita. Sebagaimana kita tahu perbuatan seorang pelacur adalah melanggar perintah Allah, namun masih memiliki kesempatan untuk masuk surga. Tentu saja kita tidak boleh menelan mentah2 cerita ini, jangan sampai karena mendengar cerita ini kita terlena dan tetap berbuat keburukan lalu berharap Allah mengampuni keburukan yang kita lakukan secara terus menerus. Tentu saja Allah tidak mungkin menginginkan kita masuk surga dengan jalan menjadi pelacur yang baik hati, kan? Ini hanya salah satu cerita tentang hakikat kebaikan, pesannya kebaikan itu walau sebesar zarrah pun tidak akan di sia-siakan oleh Allah bahkan jika kebaikan itu berasal dari seorang pelacur, tentu saja dengan syarat itu dilakukan dengan ikhlas dan disertai keimanan kepada Allah swt. Itulah pesan yang bisa kita ambil dari cerita ini, maka dari itu kita dianjurkan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan sekecil apapun.
Pilihan manapun yang kita ambil, Allah sudah tahu bagaimana nasib kita selanjutnya, karena Allah sudah mencatat semua kemungkinan-kemungkinan itu. Dengan kata lain, mungkin, Allah hanya sedang ‘menonton’ saja saat ini, karena segala kemungkinan sudah tercatat. Sementara 2 malaikat yang setia mengikuti kita hanya membantu ‘menandai’ pilihan kita, persis seperti kita mengerjakan pilihan berganda, hanya saja pilihannya luar biasa banyaknya.
Nah, satu hal yang perlu kita sadari, kematian selalu terselip di setiap kemungkinan itu, jalan manapun yang kita pilih selalu ada kematian yang sedang menunggu kita. Rasulullah mengatakan bahwa yang paling dekat dengan kita bukanlah saudara, keluarga, sahabat atau yang lainnya melainkan kematian. Kita selalu dihadapkan dengan kemungkinan untuk mati. Itu artinya, bagaimana kita mati ditentukan juga oleh pilihan-pilihan hidup kita.
Dengan begitu, semakin jelaslah kenapa khusnul khotimah bisa kita usahakan. Bagaimana cara mengusahakannya itu bisa kita dapati dengan mempelajari kitabNya. Setelah mempelajarinya tentu diikuti dengan mengamalkan. Jangan pernah menyerah, tak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Hidup hanya sekali, jangan kita habiskan hanya untuk bersenang-senang, bersantai-santai, karena kesenangan yang hakiki sesungguhnya berada di akhirat. Ibaratnya saat ini kita hanya sedang berteduh dibawah pohon rindang, perjalanan kita menuju kampung halaman masih jauh, setelah ini masih ada alam barzakh, lalu dikumpulkan di padang mahsyar. Masya Allah, jika saja setiap kita menyadari akan hakikat hidup yang sebenarnya tentu kita akan lebih sering menangis dibanding tertawa. Saat nafas sudah diujung tenggorokan tak ada lagi yang bisa kita perbaiki, semuanya sudah terlambat. Sungguh penyesalan selalu datang diakhir. Jangan sampai kita dimatikan dalam keadaan tidak beriman dan ber islam. Allah bersabda :
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam".
(QS. Ali Imran : 102)
Berikut ini sebagian kecil tanda-tanda seseorang mati dalam keadaan husnul khotimah :
1. Ditinjau dari kata-kata terakhirnya, apabila kata-kata terakhirnya adalah kalimah-kalimah toyyibah, maka itu tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.
Dari Mu`adz bin Jabal Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa ucapan terakhirnya : La ilaha illallah, maka dia masuk surga" (HR Abu Daud & Al-Hakim).
Dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baiknya dzikir adalah La ilaha illallah dan sebaik-baiknya doa adalah Alhamdulillah" (HR At-Turmudzi & Ibnu Majah).
Karena itulah sunnah hukumnya membimbing orang yang sedang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat tahlil.
Dari Abi Sa`id Al-Hudri Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Bimbinglah orang mati kalian untuk mengucapkan La ilaha illallah" (HR Muslim).
2. Di tinjau dari aktifitas terakhirnya, apabila seseorang di masa-masa akhir hidupnya beribadah baik ibadah mahdho maupun ghoiru mahdho dan dia meninggal dalam keadaan beribadah atau usai menjalankan ibadah maka itulah tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.
Dari Ali bin Abi Tholib Ra, Dia berkata : "Suatu hari saya akan menunaikan sholat subuh di mesjid bersama Rasulullah Saw, tapi ditengah jalan aku bertemu dengan seseorang yang sudah renta juga mau ke mesjid untuk menunaikan sholat subuh, aku terus berjalan dibelakangnya, dan ketika kami berdua sampai di mesjid ternyata sholat berjamaah sudah usai, akhirnya aku sholat subuh berjamaah dengan kakek itu, dan ketika aku salam tahiyyat akhir si kakek tetap bersujud dan ternyata si kakek telah meninggal dunia, lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, bagaimana keadaan kakek ini di akherat?" Rasulullah menjawab, "Dia masuk surga" (HR Ahmad & Daruqutni).
3. Di tinjau dari hari terakhirnya (hari jum`at), begitu banyak orang-orang sholih yang meninggal dunia pada hari jum`at, karena mati pada hari jum`at adalah tanda kematian husnul khotimah.
Dari Ibnu umar Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Tiada seorang muslim yang meninggal pada hari atau malam jum`at, kecuali Allah akan menyelamatkannya dari siksa kubur" (HR Ahmad & At-Turmudzi).
Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baik hari adalah hari jum`at, karena pada hari jum`at itulah Adam di ciptakan. Pada hari jum`at ia di masukkan ke surga dan pada hari jum`at ia di keluarkan dari surga. Pada hari jum`at ia wafat dan tidak akan terjadi kiamat kecuali hari jum`at" (HR As-Syafi`I dan Ahmad).
4. Di tinjau dari kondisi terakhir fisiknya. Kita sering menyaksikan seseorang meninggal dengan kondisi tubuh yang tidak wajar seperti tubuh gosong, penuh dengan luka dan nanah, berbau busuk, keluar belatung, lidah menjulur dan mata melotot atau bahkan tidak ada yang mau memandikan, mengkafani dan mensholatkan dll. Seseorang yang matinya husnul khotimah tidak akan mengalami kejadian-kejadian seperti diatas, malah sebaliknya seperti wajah mayit terlihat tenang dan damai bahkan ada yang tersenyum, banyak yang berta`ziyah dan mensholatkan dll.
Dari Abu Darda Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Tidak akan keluar ruhnya seorang mu`min sampai dia melihat tempatnya di surga, dan tidak akan keluar ruhnya seorang kafir sampai dia melihat tempatnya di neraka" (HR Al-Baihaqi).
Dari Aisyah Ra, Rasulullah bersabda: "Tidak satu mayit pun yang di sholatkan oleh seratus orang kaum muslimin dan semuanya memintakan syafa`at untuknya, pasti syafa`at mereka di terima" (HR Muslim)
Akhir kata, saya mohon maaf jika ada kata-kata yang salah atau menyinggung beberapa pihak. Saya sadar masih banyak ketidaksempurnaan dalam diri saya. Tulisan ini berasal dari hasil pemikiran, perenungan, diskusi dan beberapa artikel yang pernah saya baca, juga sebagai bahan renungan dan teguran buat saya pribadi. Marilah kita mempersiapkan kematian kita, karena orang yang paling cerdas adalah orang yang mampu mempersiapkan bekal kehidupannya di akhirat kelak. Semoga kita dapat dipertemukan di Surga Allah.
Aaamiin yaa Rabbal Alamiin...
Allahu a'lam bishowab.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Sumber :
Al Qur'anul kariim
http://mind.donnyreza.net/seri-takdir
Berbagai Sumber
Rabu, 30 Juli 2014
Langkah pertama
Subhanallah wal hamdulillah, atas berkat rahmat Allah yang maha pengasih, yang nikmatNya selalu tercurah sampai detik ini hingga akhirnya terlaksana juga impian saya beberapa hari ini untuk memiliki blog pribadi.
Ya, walaupun sudah lama saya mengenal tentang web blog, tapi niat memiliki blog pribadi baru tercetus di otak saya beberapa hari belakangan ini, itupun karena memang gak tau mau ngapain lagi dirumah selama libur panjang idul fitri. Idul fitri tahun ini saya tidak mudik (read: pulang kampung) seperti idul fitri tahun-tahun sebelumnya dan akhirnya sayapun bisa merasakan apa yang mereka rasakan, para Kota-ers yang tidak memiliki kampung halaman atau ada kampung halaman tapi semua keluarga tinggal di Jakarta dan sekitarnya sehingga tiap kali idul fitri atau lebaran tidak perlu sibuk dengan tradisi mudik.
Hampir seminggu libur, setelah selesai menyatroni tetangga dan saudara2 untuk berlebaran saya sering terjebak dengan aktivitas yang bisa dikatakan kurang bermanfaat dan membosankan, tidur sepanjang hari, nonton tv, dengerin radio, atau Facebook an, tapi saya yakin I'm not the only one. Temen2 mungkin merasakan hal yang sama dengan saya.
Tapi alhamdulillah selain aktivitas yang saya sebutkan diatas, tentu ada aktivitas positif lain yang tetap saya lakukan, shalat 5 waktu pasti, baca Al qur'an alhamdulillah khatam 1 kali selama ramadhan, dengerin tausiyah baik di tv maupun radio, silaturahim kerumah kerabat, beres2 rumah, dan masih banyak lagi. Karena saya sadar waktu adalah harta yang paling berharga setelah keluarga (inget lagu keluarga cemara). Oleh karena itu, bijak dalam menggunakan waktu menjadi hal penting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Berangkat dari kekhawatiran saya tentang janji Allah mengenai waktu, bahwa kita semua adalah termasuk orang orang yang merugi kecuali orang yang beriman, beramal sholeh, saling mengingatkan untuk kebenaran dan saling mengingatkan untuk kesabaran. Hal ini mendorong saya membuat satu blog pribadi dimana saya dapat berbagi pengalaman, cerita, tips, atau kutipan-kutipan tausiyah yang pernah saya dengarkan. Saya memang gemar sekali share (Read :Berbagi) pengetahuan apa saja baik itu hal2 baru maupun yang sudah lama saya ketahui. Selama ini media saya untuk share adalah Facebook, namun banyak saya temui kendala ketika saya mau share tentang pengalaman atau kutipan2 tausiyah yang baru saya dengarkan, yaitu ada limit karakter yang bisa diketik, sedangkan saya tipe orang yang kalo udah nulis itu paling ga bisa di batas-batasin dan menurut saya juga kurang pas kalo share pengalaman pribadi di facebook dalam bentuk update status, ya kan.
Nah, blog ini lah akhirnya yang jadi pelabuhan terakhir saya. Semoga saja melalui blog ini saya bisa berbagi kebaikan, pengalaman dan hal lain yang mungkin saja berguna bagi teman-teman. Rasulullah mengatakan "sampaikanlah kebaikan walau hanya satu ayat", kalau sudah inget hadist ini saya langsung bersemangat untuk nulis status di media Facebook atau kirim pesan lewat sms, whatsapp, atau bbm. Karena sekarang udah punya blog nambah satu lagi media saya untuk menyampaikan 1 ayat kebaikan.
Wallahu a'lam bish showab.
Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamu'alaikum warrahmatullah wabarakaatuh.





