Jumat, 01 Agustus 2014

Mari persiapkan Khusnul Khotimah!!!

Mari, persiapkan khusnul khotimah!!!
 
 

Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Ya Allah ya rahiim...Tak henti-hentinya diri ini mengucap syukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan sampai detik ini. Sungguh besar kuasaMu atas alam ini dan seisinya, tak ada daya dan upaya selain dariMu.

Ya Allah... tetapkanlah nikmat iman dan islam sampai akhir hayat kami, jadikanlah akhir hidup kami adalah akhir yang indah, yang baik serta dipenuhi cahaya keimanan. Mudahkanlah kami mengucap kalimat Laa Ilaaha Illallah saat maut menjemput, jangan kau biarkan Syaitan menggoyahkan keimanan kami.
Sungguh saat itu adalah saat yang amat menyakitkan, maka kuatkanlah kami.
Saat itu adalah saat yang menyulitkan, maka mudahkanlah kami.
Saat itu adalah penanda apakah kami berhak menerima surgaMu atau NerakaMu.
Saat itu adalah saat dimana syaitan mengeluarkan segala daya upayanya yang terbaik untuk menyesatkan kami agar menjadi kafir, maka berikanlah kekuatan untuk kami menolak ajakan Syaitan.
Yaa Allah... sungguh berat siksaanMu, sungguh pedih azabMu, bahkan membayangkannya pun kami tak sanggup.
Semoga kita semua di matikan dalam keaadaan khusnul khatimah, Aamiinn...

Sahabat yang dimuliakan oleh Allah...
Semoga rangkaian doa diatas membuat hati kita yang awalnya keras menjadi lembut, ingat akan hakikat hidup yang sesungguhnya.
Betapa dunia ini telah menyilaukan kita, melalaikan kita sehingga lupa akan tujuan hidup dan apa maksud dari penciptaan manusia yang sesungguhnya.

Mungkin tema diatas sangat berat untuk dibahas apalagi bagi saya seorang yang fakir ilmu. Namun, dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, tak menghilangkan niat saya untuk tetap berbagi dan saling mengingatkan pada kebenaran tanpa bermaksud untuk menggurui.

Saya ingat, beberapa minggu yang lalu saat pertengahan bulan ramadhan saya berkesempatan bertemu dengan salah seorang teman untuk buka puasa bersama, tepat di hari pemilihan umum presiden tanggal 9 Juli 2014. Dia datang dengan suaminya dan bayi nya yang lucu, usia bayi nya masih kurang dari setahun tapi saya lupa tepatnya berapa bulan. Sambil menyantap hidangan kami bercerita banyak hal, namun tentu tak jauh dari soal agama islam. Maklum, suami temanku itu memang seorang calon ustadz sepertinya, hehehe... Aamiinn...

Dalam salah satu ceritanya dia menyinggung soal hakikat hidup dan kematian... hhuuu... seereemm... kalo nyeritainya di tempat umum kayak gitu sih gak serem, tapi lain cerita mungkin kalau ditengah kuburan.
Dari cerita itu terlontar pertanyaan dari saya kurang lebih seperti ini "jadi, khusnul khotimah itu takdir atau bukan, atau kita harus mengusahakannya?"
Jawabannya, ternyata khusnul khatimah atau su'ul khatimah itu bukan takdir atau lebih tepatnya mungkin bukan takdir hakiki, kalaupun memang sebenarnya kita sudah ditakdirkan su'ul khatimah kita bisa mengusahakannya agar bisa menjadi khusnul khatimah, penentuan itu lebih kepada jalan hidup seperti apa yang kita pilih selama ini. Pendekatan seperti ini mungkin yang paling gampang saya cerna. Namun, tak menutup kemungkinan ketika saya menemui pendekatan yang lebih masuk akal dan lebih baik dari ini saya akan merubahnya.

Jadi selama ini salah kalau masih ada yang berpikiran "hidup ga usah terlalu lurus, santai aja toh yang tau kematian kita hanya Allah, yang baik bisa jadi jahat atau sebaliknya yang jahat juga bisa jadi baik, cuma Allah yang tau kita gak usah banyak cincong laahh... ribet. Hidup udah susah gak usah dibuat makin susah, santai aja. Yang penting kita hidup gak nyusahin orang dan baik sama orang lain, udah cukup".
Saya juga sering mendengar kalimat seperti ini "muda foya foya, tua kaya raya, mati masuk surga" astagfirullah... dari kalimat itu tersirat betapa harta menjadi tujuan utama , tak penting beribadah kepada Allah, padahal Allah tidak pernah menjanjikan surgaNya karena harta yang dimiliki, melainkan karena ketakwaan kita kepada Allah. kalaupun ada janji Allah adalah untuk harta yang di sedekahkan bukan untuk yang di foya foya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Allah sangat membenci orang yang berlebih-lebihan membelanjakan hartanya untuk urusan duniawi, kecuali di sedekahkan di jalan Allah.

Jujur setiap kali saya mendengar kata2 seperti diatas baik dari sahabat, rekan kerja atau terkadang dari sinetron (koban sinetron, dulu sih sekarang udah gak, gak terlalu banyak tapi masih sedikit maksudnya, hehehe...) saya langsung tergelitik untuk mengomentari, baik komentar yang langsung diucapkan ataupun hanya didalam hati. Karena jika prinsip hidup kita hanya berdasarkan yang penting baik dan tidak jahat tanpa mengindahkan perintah Allah yang lain tentang beribadah, menjauhi yang haram, menutup aurat dll, lalu untuk apa Allah menurunkan Al qur'an, cukuplah Allah memberikan kita insting untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, that's it. Cukuplah kita berhubungan dengan sesama manusia saja (habluminannas) tanpa memikirkan bagaimana caranya berhubungan dengan Allah sang pencipta (Habluminallah).

Namun kenyataannya tidak seperti itu, dengan kasih sayangNya Allah telah menurunkan Al qur'an sebagai petunjuk agar kita dapat menentukan jalan mana yang akan kita ambil, karena setiap titik dan detik kehidupan yang kita lalui berisi berbagai macam pilihan.

Mungkin mudahnya seperti ini jika kita sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Kita hanya boleh memilih satu jalan, kita tidak pernah tahu apa yang ada di sepanjang jalan-jalan tersebut. Sekali kita memilih salah satu jalan yang kita inginkan, kita tidak bisa kembali. Setiap jalan berakhir pada ujung yang berbeda. Adakalanya, di jalan yang kita pilih, kita dihadapkan lagi dengan persimpangan lain. Terus seperti itu. Suka atau tidak suka dengan ‘pemandangan’ dan ‘fasilitas’ yang ada di jalan yang kita pilih, itulah pilihan kita. Itulah takdir kita. Masalahnya adalah kita dituntut untuk memilih jalan yang benar, jika pilihan kita salah, maka dipastikan kita akan menyesal selamanya. Nah, untuk memilih jalan yang benar tersebut, Allah sudah menempatkan petunjukNya melalui Al qur'an. Seringkali kita sudah tahu tentang petunjuk tersebut, tapi kita sering mengabaikan petunjuk tersebut. Inilah yang menjadikan seseorang tersesat di suatu jalan.

Sebagaiman dijelaskan dalam surat al-kahfi ayat 29 :
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir".
Misal, kita menemukan sebuah uang Rp 100.000 dijalan, banyak kemungkinan yang bisa kita lakukan bukan?. Kita bisa mengambil koin tersebut, hanya melihatnya dan terus berjalan, mengambilnya lalu menanyakan kepada orang sekitar siapa pemiliknya atau malah menendangnya kepinggir jalan. Setelah pilihan ditentukan mungkin kita akan dihadapkan pada pilihan kedua. contoh, Jika kita memilih untuk mengambilnya setelah itu banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, bisa kita gunakan untuk sedekah, beli minuman, bayar angkot, untuk berjudi dsb. Namun jika kita memutuskan untuk melihatnya dan terus berjalan, tentu hasilnya belum tentu sama dan mungkin kita tidak akan dihadapkan pada pilihan yang kedua.

Kita juga sering mendengar cerita tentang seorang pelacur yang bisa masuk surga hanya karena memberi makan seekor anjing yang kelaparan, mungkin itu agak melegakan bagi kita. Sebagaimana kita tahu perbuatan seorang pelacur adalah melanggar perintah Allah, namun masih memiliki kesempatan untuk masuk surga. Tentu saja kita tidak boleh menelan mentah2 cerita ini, jangan sampai karena mendengar cerita ini kita terlena dan tetap berbuat keburukan lalu berharap Allah mengampuni keburukan yang kita lakukan secara terus menerus. Tentu saja Allah tidak mungkin menginginkan kita masuk surga dengan jalan menjadi pelacur yang baik hati, kan? Ini hanya salah satu cerita tentang hakikat kebaikan, pesannya kebaikan itu walau sebesar zarrah pun tidak akan di sia-siakan oleh Allah bahkan jika kebaikan itu berasal dari seorang pelacur, tentu saja dengan syarat itu dilakukan dengan ikhlas dan disertai keimanan kepada Allah swt. Itulah pesan yang bisa kita ambil dari cerita ini, maka dari itu kita dianjurkan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan sekecil apapun.

Pilihan manapun yang kita ambil, Allah sudah tahu bagaimana nasib kita selanjutnya, karena Allah sudah mencatat semua kemungkinan-kemungkinan itu. Dengan kata lain, mungkin, Allah hanya sedang ‘menonton’ saja saat ini, karena segala kemungkinan sudah tercatat. Sementara 2 malaikat yang setia mengikuti kita hanya membantu ‘menandai’ pilihan kita, persis seperti kita mengerjakan pilihan berganda, hanya saja pilihannya luar biasa banyaknya.

Nah, satu hal yang perlu kita sadari, kematian selalu terselip di setiap kemungkinan itu, jalan manapun yang kita pilih selalu ada kematian yang sedang menunggu kita. Rasulullah mengatakan bahwa yang paling dekat dengan kita bukanlah saudara, keluarga, sahabat atau yang lainnya melainkan kematian. Kita selalu dihadapkan dengan kemungkinan untuk mati. Itu artinya, bagaimana kita mati ditentukan juga oleh pilihan-pilihan hidup kita.

Dengan begitu, semakin jelaslah kenapa khusnul khotimah bisa kita usahakan. Bagaimana cara mengusahakannya itu bisa kita dapati dengan mempelajari kitabNya. Setelah mempelajarinya tentu diikuti dengan mengamalkan. Jangan pernah menyerah, tak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Hidup hanya sekali, jangan kita habiskan hanya untuk bersenang-senang, bersantai-santai, karena kesenangan yang hakiki sesungguhnya berada di akhirat. Ibaratnya saat ini kita hanya sedang berteduh dibawah pohon rindang, perjalanan kita menuju kampung halaman masih jauh, setelah ini masih ada alam barzakh, lalu dikumpulkan di padang mahsyar. Masya Allah, jika saja setiap kita menyadari akan hakikat hidup yang sebenarnya tentu kita akan lebih sering menangis dibanding tertawa. Saat nafas sudah diujung tenggorokan tak ada lagi yang bisa kita perbaiki, semuanya sudah terlambat. Sungguh penyesalan selalu datang diakhir. Jangan sampai kita dimatikan dalam keadaan tidak beriman dan ber islam. Allah bersabda :

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam".
(QS. Ali Imran : 102)

Berikut ini sebagian kecil tanda-tanda seseorang mati dalam keadaan husnul khotimah :

1. Ditinjau dari kata-kata terakhirnya, apabila kata-kata terakhirnya adalah kalimah-kalimah toyyibah, maka itu tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.

Dari Mu`adz bin Jabal Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa ucapan terakhirnya : La ilaha illallah, maka dia masuk surga" (HR Abu Daud & Al-Hakim).

Dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baiknya dzikir adalah La ilaha illallah dan sebaik-baiknya doa adalah Alhamdulillah" (HR At-Turmudzi & Ibnu Majah).

Karena itulah sunnah hukumnya membimbing orang yang sedang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat tahlil.

Dari Abi Sa`id Al-Hudri Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Bimbinglah orang mati kalian untuk mengucapkan La ilaha illallah" (HR Muslim).

2. Di tinjau dari aktifitas terakhirnya, apabila seseorang di masa-masa akhir hidupnya beribadah baik ibadah mahdho maupun ghoiru mahdho dan dia meninggal dalam keadaan beribadah atau usai menjalankan ibadah maka itulah tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.

Dari Ali bin Abi Tholib Ra, Dia berkata : "Suatu hari saya akan menunaikan sholat subuh di mesjid bersama Rasulullah Saw, tapi ditengah jalan aku bertemu dengan seseorang yang sudah renta juga mau ke mesjid untuk menunaikan sholat subuh, aku terus berjalan dibelakangnya, dan ketika kami berdua sampai di mesjid ternyata sholat berjamaah sudah usai, akhirnya aku sholat subuh berjamaah dengan kakek itu, dan ketika aku salam tahiyyat akhir si kakek tetap bersujud dan ternyata si kakek telah meninggal dunia, lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, bagaimana keadaan kakek ini di akherat?" Rasulullah menjawab, "Dia masuk surga" (HR Ahmad & Daruqutni).

3. Di tinjau dari hari terakhirnya (hari jum`at), begitu banyak orang-orang sholih yang meninggal dunia pada hari jum`at, karena mati pada hari jum`at adalah tanda kematian husnul khotimah.

Dari Ibnu umar Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Tiada seorang muslim yang meninggal pada hari atau malam jum`at, kecuali Allah akan menyelamatkannya dari siksa kubur" (HR Ahmad & At-Turmudzi).

Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baik hari adalah hari jum`at, karena pada hari jum`at itulah Adam di ciptakan. Pada hari jum`at ia di masukkan ke surga dan pada hari jum`at ia di keluarkan dari surga. Pada hari jum`at ia wafat dan tidak akan terjadi kiamat kecuali hari jum`at" (HR As-Syafi`I dan Ahmad).

4. Di tinjau dari kondisi terakhir fisiknya. Kita sering menyaksikan seseorang meninggal dengan kondisi tubuh yang tidak wajar seperti tubuh gosong, penuh dengan luka dan nanah, berbau busuk, keluar belatung, lidah menjulur dan mata melotot atau bahkan tidak ada yang mau memandikan, mengkafani dan mensholatkan dll. Seseorang yang matinya husnul khotimah tidak akan mengalami kejadian-kejadian seperti diatas, malah sebaliknya seperti wajah mayit terlihat tenang dan damai bahkan ada yang tersenyum, banyak yang berta`ziyah dan mensholatkan dll.

Dari Abu Darda Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Tidak akan keluar ruhnya seorang mu`min sampai dia melihat tempatnya di surga, dan tidak akan keluar ruhnya seorang kafir sampai dia melihat tempatnya di neraka" (HR Al-Baihaqi).

Dari Aisyah Ra, Rasulullah bersabda: "Tidak satu mayit pun yang di sholatkan oleh seratus orang kaum muslimin dan semuanya memintakan syafa`at untuknya, pasti syafa`at mereka di terima" (HR Muslim)


Akhir kata, saya mohon maaf jika ada kata-kata yang salah atau menyinggung beberapa pihak. Saya sadar masih banyak ketidaksempurnaan dalam diri saya. Tulisan ini berasal dari hasil pemikiran, perenungan, diskusi dan beberapa artikel yang pernah saya baca, juga sebagai bahan renungan dan teguran buat saya pribadi. Marilah kita mempersiapkan kematian kita, karena orang yang paling cerdas adalah orang yang mampu mempersiapkan bekal kehidupannya di akhirat kelak. Semoga kita dapat dipertemukan di Surga Allah.

Aaamiin yaa Rabbal Alamiin...

Allahu a'lam bishowab.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.





Sumber :
Al Qur'anul kariim
http://mind.donnyreza.net/seri-takdir
Berbagai Sumber