Sabtu, 22 Agustus 2015

♡★ PASSPORT IS THE PASSWORD ★♡

"Tak usah kau risaukan, Ayah, aku berkelana bukan untuk dunia semata. Jangan kau kusutkan keningmu, Ibu, langkah kakiku adalah hangatnya peluk dan doamu."

Sepenggal kalimat diatas agaknya mampu mewakili apa yang kurasakan, dan mungkin beberapa kawan lain yang tak jarang menghadapi penolakan dari sahabat, teman atau bahkan keluarga.

"Haah..., mau ke luar negeri lagi, Ngapain sih? Ngabis2in duit aja."

"Ya ampuuun... ngapain ke luar negeri segala sih, Indonesia juga banyak tujuan wisatanya, gak kalah bagus sama di luar negeri, cinta Indonesia donk."

"Ngapain ke luar negeri, ngasih devisa buat orang lain, negara sendiri aja lagi kekurangan devisa."

Dan masih banyak lagi, penolakan orang2 sekitar.
Fiiuuhh... untung hati ini buatan Allah, kalau aja made in china mungkin udah hancur berkeping-keping. Tapi apa yang membuat kami terus bergerak? Yaitu untuk Sebuah perubahan. Ya, karena result kami bukan hanya sekedar jalan2, buang uang, atau beli barang mewah disana. Hasil yang ingin kita capai lebih dari itu, sebuah karakter bangsa yang berakhlak dan tidak kerdil dimasa depan. Sebuah bangsa yang didalamnya terdapat pemimpin yang tidak steril dan sempit.

Memang terdengar berlebihan, masa' cuma dengan ke luar negeri bisa membuat bangsa menjadi berkarakter sih. Ya, awalnya aku juga merasa begitu, sampai akhirnya kami menemukan ternyata bukan hanya kami yang berpikir seperti itu.

Ternyata Prof. Rhenald Kasali sang pendiri RUMAH PERUBAHAN itu pun sepemikiran dengan kami. Ya, guru besar Universitas Indonesia ini ternyata menggunakan metode "Paspor" dalam mata kuliah yang diajarnya. Awalnya metode ini pun sulit diterima oleh para orang tua maupun teman sesama dosen. Namun, beliau yakin bahwa melalui metode ini mahasiswa bisa men-drive diri atau self mereka sehingga mampu mencari dan menemukan "pintu keluar" dari kesulitan yang mereka hadapi sehari-hari. Namun, tradisi kita ternyata jauh dari harapan itu, kita lebih banyak membentuk mereka menjadi "passengers" ketimbang "drivers". Ya, karena itulah kami di Sekolah Alam Jingga Lifeschool dan tentu Prof. Rhenald merasa perlu melakukan perubahan.

Kalau di kelasnya, sang profesor  menugaskan para mahasiswa untuk mengurus paspor mereka masing2 sejak minggu pertama mereka kuliah dan langsung memerintahkan untuk berangkat ke negara yang tidak berbahasa melayu melainkan negeri yang jauh dari negeri kelahirannya. Kami berbeda, orang tua murid kami sodorkan program edu-trip sejak awal semester kemarin, karena anak2 masih dibawah umur maka orang tuanya lah yang memutuskan untuk mengikuti program ini atau tidak. Untuk paspor, kami bantu untuk mendaftarkannya via website saja.

Dan tarraaa.... sebuah paspor sudah berada di tangan mereka saat ini. Persis kemarin, hari jumat, di sekolah, seorang anak bertubuh tambun dengan bangga datang kepada saya.

"Bu, bu Yuni...!!! Ini......"

Ia pun menyodorkan sebuah buku berwarna hijau tosca eye catching yang berjudul paspor itu ke saya.

"Oohh sudah jadi ya punya kamu? Sini, ibu lihat." Jawabku menimpali.

Ia tak mampu menyembunyikan rasa bangga bercampur bahagia kala menyodorkan paspor baru nya itu. Tentu, rasa itupun langsung saja merembet kedalam hatiku.

Passport is the password, ya memang begitu. Paspor adalah izin memasuki dunia yang baru, dunia global. Tanpa paspor manusia akan kesepian, terkurung dalam kesempitan, lalu menjadi manusia2 yang steril.

Setelah itu, tentu akan muncul pertanyaan ini. "Uang untuk beli tiket beserta akomodasinya darimana?"

Ini jawaban dari sang profesor untuk pertanyaan diatas.

"Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa dan tidak mungkin. Bagi mereka yang yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa amat jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang tak terbayangkan: pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom."

Untuk anak-anak ku, selamat menjelajahi dunia dengan paspor-paspor baru kalian. Semoga pengalaman kalian mampu memotivasi dan menjadi booster atau penggugah bagi kawan-kawan agar terbebas dari belenggu yang selama ini mengikat kaki dan tangan mereka.

Semoga bermanfaat...

Sumber penulisan:
1. "30 paspor di kelas sang profesor" oleh J.S. Khairen
2. Pengalaman nyata sehari-hari di sekolah alam jingga.

Tim Jingga Edutrip :
Febi Jingga
Ana Nauri
Ria Djusnita
Yuni Khumaira Azzahra

Penasehat :
Ari Maryadi