Pak Jokowi
yang terhormat,
Selamat atas
terpilihnya Bapak sebagai presiden RI periode 2014-2019.
Bagi saya,
bukanlah hal yang mudah mencari rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan
kesan mengenai pemilu 2014 , entah karena terlalu banyak kesan yang ditinggalkan
atau karena alasan hain. Tapi apapun itu,
saya tetap bangga menjadi warga negara Indonesia. Betapa tidak, negeri ini memiliki potensi luar
biasa yang bisa digali untuk kesejahteraan rakyat. Kemajemukan warganya,
terdiri dari bermacam-macam suku bangsa membuat kita semakin memiliki
keistimewaaan dimata dunia.
Begitu
banyak kesan yang diberikan oleh pelaksanaan hajat lima tahunan kali ini. Ada
perasaan senang, gembira, bangga, antusias, deg degan, sedih bahkan kecewa. Seolah-olah hati saya ini sedang diajak bermain
atau malah terkesan sedang dipermainkan,
saya sendiri tidak tahu. Berbeda dengan 2 pemilu yang sudah saya ikuti
sebelumnya, kali ini saya merasakan ada hal yang berbeda.
Pak Jokowi,
sungguh rakyat Indonesia sudah sangat rindu akan sosok pemimpin yang baik dan
berakhlakul karimah seperti Rasulullah. Tak Mudah memang mencari sosok seperti
beliau, namun bukankah kita selalu dituntut untuk memiliki sifat seperti beliau
dengan mengikuti sunnah-sunnah nya? Terlebih jika seseorang itu telah menjadi
pemimpin, merupakan hal yang sangat
mulia jika seorang pemimpin itu berusaha untuk mengikuti cara-cara Rasulullah
dalam memimpin dengan mengedepankan
sifat amanah yang diwariskan beliau. Semoga
bapak selalu diberi kemudahan oleh Allah.
Pak Jokowi,
bapak juga pasti merasakan ternyata didalam sistem demokrasi yang katanya
semakin dewasa dinegeri ini masih saja ditemui perilaku-perilaku amoral. Mohon
maaf jika saya memilih kata amoral dalam tulisan ini, karena hampir tidak ada
kata lain yang bisa menggambarkan perilaku para pejabat tinggi di negeri ini.
Terkait pemilu, perilaku itu ditunjukkan melalui kegiatan politik uang, swap,
atau kecurangan-kecurangan lain yang mungkin tidak terlalu terpublikasi. Bahkan
saya mendengar langsung, pada pemilihan legislatif kemarin seorang teman
mendapatkan sejumlah uang agar memilih
salah satu caleg yang tengah berkompetisi. Walaupun saya belum pernah menerima
langsung uang-uang sogokan itu, namun cukup bagi saya kesaksian dari teman dan
beberapa berita tv yang memberitakan hal tersebut untuk saya mempercayainya. Mungkin Allah masih
melindungi saya dan keluarga dari rezeki
yang sumbernya tidak halal.
Lalu
bagaimana dengan pilpres tahun ini? Pilpres kali ini juga tidak lepas dari perilaku yang kurang
baik, ramainya kampanye hitam, saling menjatuhkan, sampai-sampai beberapa
stasiun televisi tidak mau kalah ikut memberi andil dalam perhelatan. Yang
membuat saya kecewa, mereka terkesan tidak netral bahkan terkesan saling
menjatuhkan. Bagaimana tidak, sempat diberitakan bahwa salah satu kantor stasiun
televisi akan didemo dan dihancurkan oleh katakanlah beberapa oknum. Terlepas
berita itu benar atau tidak hal ini membuktikan betapa besar efek dari kampanye hitam atau pemberitaan yang yang saling memojokan itu bagi masyarakat. Belum
lagi masalah teknis pemilu, seperti penetapan DPT, penghitungan suara, dsb. Khususnya
soal perhitungan suara, sampai – sampai harus ada pengajuan banding ke MK oleh
salah satu kandidat karena hasil perhitungan yang dilakukan oleh KPU berbeda
dengan versi mereka. Ini merupakan salah satu efek masih lemahnya sistem
pemilu kita. Saya memang tidak banyak mengerti soal sistem atau program
komputer. Namun, saya rasa metode perhitungan KPU nantinya perlu dikembangkan secara
komputerisasi atau online karena metode
ini adalah yang paling mudah dilakukan untuk meminimalisir kejadian-kejadian
seperti ini. Disamping
kelemahan-kelemahannya, sistem komputerisasi atau online menawarkan banyak
kemudahan dan keakuratan data lebih dapat diandalkan.
Soal isu-isu
kecurangan dalam pemilu kali ini,
mungkin saya adalah salah satu orang yang cukup vokal soal ini,
dibeberapa kesempatan baik melalui sosial media atau saat ngobrol-ngobrol
dengan teman, saya sering menyuarakan
betapa saya sangat tidak terima jika memang hal ini benar-benar terjadi. Tentu
saja, ini merupakan tindak kejahatan dalam sistem demokrasi kita. Betapa besar
biaya yang dikeuluarkan oleh negara untuk menyelenggarakan pemilu, namun hasil
yang didapat adalah hasil yang di dominasi oleh kecurangan. Betapa rakyat
sangat dilukai atas kezaliman ini,
semoga Allah selalu melindungi negeri ini dari bencana-bencana.
Pak Jokowi,
semoga Bapak bisa membawa perubahan yang baik di negeri ini, namun bukankah
perubahan yang baik itu seharusnya melalui proses yang baik pula serta diridhoi
oleh Allah swt? Semoga bapak bisa menjadi pribadi yang selalu dekat dengan
Allah, karena ketika Bapak dekat dengan Allah, semua akan berjalan dengan baik.
Khususnya dalam memimpin negeri ini. Tidak akan ada lagi korupsi, politik uang,
dan kebijakan-kebijakan yang berdampak buruk bagi rakyat. Melalui janji-janji bapak, jargon-jargon bapak
untuk mengubah negeri ini menjadi negeri yang baru, saya berharap Indonesia
akan menemui masa kejayaanya kembali seperti saat Indonesia dipimpin oleh Ir.
Soekarno.
Semoga
pelaksanaan Pemilu di Indonesia kedepannya bisa merepresentasikan pilihan
rakyat yang sesungguhnya. Pemilu yang bersih sangat diharapkan oleh seluruh
rakyat Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas pemerintahan dimasa yang
akan datang. Aaamiinn,...
Dengan tema “
Dari anak muda untuk Jokowi : Tentang pemilu bersih”
Semoga bermanfaat...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar