Rabu, 17 September 2014

SURAT UNTUK JOKOWI


Pak Jokowi yang terhormat,

Selamat atas terpilihnya Bapak sebagai presiden RI periode 2014-2019.

Bagi saya, bukanlah hal yang mudah mencari rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan kesan mengenai pemilu 2014 , entah karena terlalu banyak kesan yang ditinggalkan atau karena alasan hain. Tapi apapun itu, saya tetap bangga menjadi warga negara Indonesia. Betapa tidak, negeri ini memiliki potensi luar biasa yang bisa digali untuk kesejahteraan rakyat. Kemajemukan warganya, terdiri dari bermacam-macam suku bangsa membuat kita semakin memiliki keistimewaaan dimata dunia.

Begitu banyak kesan yang diberikan oleh pelaksanaan hajat lima tahunan kali ini. Ada perasaan senang, gembira, bangga, antusias, deg degan, sedih bahkan kecewa.  Seolah-olah hati saya ini sedang diajak bermain atau malah terkesan sedang  dipermainkan, saya sendiri tidak tahu. Berbeda dengan 2 pemilu yang sudah saya ikuti sebelumnya, kali ini saya merasakan ada hal yang berbeda.

Pak Jokowi, sungguh rakyat Indonesia sudah sangat rindu akan sosok pemimpin yang baik dan berakhlakul karimah seperti Rasulullah. Tak Mudah memang mencari sosok seperti beliau, namun bukankah kita selalu dituntut untuk memiliki sifat seperti beliau dengan mengikuti sunnah-sunnah nya? Terlebih jika seseorang itu telah menjadi pemimpin, merupakan hal yang  sangat mulia jika seorang pemimpin itu berusaha untuk mengikuti cara-cara Rasulullah dalam  memimpin dengan mengedepankan sifat amanah yang diwariskan beliau.  Semoga bapak selalu diberi kemudahan oleh Allah.

Pak Jokowi, bapak juga pasti merasakan ternyata didalam sistem demokrasi yang katanya semakin dewasa dinegeri ini masih saja ditemui perilaku-perilaku amoral. Mohon maaf jika saya memilih kata amoral dalam tulisan ini, karena hampir tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan perilaku para pejabat tinggi di negeri ini. Terkait pemilu, perilaku itu ditunjukkan melalui kegiatan politik uang, swap, atau kecurangan-kecurangan lain yang mungkin tidak terlalu terpublikasi. Bahkan saya mendengar langsung, pada pemilihan legislatif kemarin seorang teman mendapatkan  sejumlah uang agar memilih salah satu caleg yang tengah berkompetisi. Walaupun saya belum pernah menerima langsung uang-uang sogokan itu, namun cukup bagi saya kesaksian dari teman dan beberapa berita tv yang memberitakan hal tersebut untuk saya mempercayainya. Mungkin Allah masih melindungi saya dan keluarga  dari rezeki yang sumbernya tidak halal.

Lalu bagaimana dengan pilpres tahun ini? Pilpres kali ini  juga tidak lepas dari perilaku yang kurang baik, ramainya kampanye hitam, saling menjatuhkan, sampai-sampai beberapa stasiun televisi tidak mau kalah ikut memberi andil dalam perhelatan. Yang membuat saya kecewa, mereka terkesan tidak netral bahkan terkesan saling menjatuhkan. Bagaimana tidak, sempat diberitakan bahwa salah satu kantor stasiun televisi akan didemo dan dihancurkan oleh katakanlah beberapa oknum. Terlepas berita itu benar atau tidak hal ini membuktikan betapa besar efek dari kampanye hitam atau pemberitaan yang yang saling memojokan itu bagi masyarakat. Belum lagi masalah teknis pemilu, seperti penetapan DPT, penghitungan suara, dsb. Khususnya soal perhitungan suara, sampai – sampai harus ada pengajuan banding ke MK oleh salah satu kandidat karena hasil perhitungan yang dilakukan oleh KPU berbeda dengan versi mereka. Ini merupakan salah satu efek masih lemahnya sistem pemilu kita. Saya memang tidak banyak mengerti soal sistem atau program komputer. Namun, saya rasa metode perhitungan KPU nantinya perlu dikembangkan secara komputerisasi atau online karena  metode ini adalah yang paling mudah dilakukan untuk meminimalisir kejadian-kejadian seperti ini. Disamping kelemahan-kelemahannya, sistem komputerisasi atau online menawarkan banyak kemudahan dan keakuratan data lebih dapat diandalkan.

Soal isu-isu kecurangan dalam pemilu kali ini,  mungkin saya adalah salah satu orang yang cukup vokal soal ini, dibeberapa kesempatan baik melalui sosial media atau saat ngobrol-ngobrol dengan teman,  saya sering menyuarakan betapa saya sangat tidak terima jika memang hal ini benar-benar terjadi. Tentu saja, ini merupakan tindak kejahatan dalam sistem demokrasi kita. Betapa besar biaya yang dikeuluarkan oleh negara untuk menyelenggarakan pemilu, namun hasil yang didapat adalah hasil yang di dominasi oleh kecurangan. Betapa rakyat sangat  dilukai atas kezaliman ini, semoga Allah selalu melindungi negeri ini dari bencana-bencana.

Pak Jokowi, semoga Bapak bisa membawa perubahan yang baik di negeri ini, namun bukankah perubahan yang baik itu seharusnya melalui proses yang baik pula serta diridhoi oleh Allah swt? Semoga bapak bisa menjadi pribadi yang selalu dekat dengan Allah, karena ketika Bapak dekat dengan Allah, semua akan berjalan dengan baik. Khususnya dalam memimpin negeri ini. Tidak akan ada lagi korupsi, politik uang, dan kebijakan-kebijakan yang berdampak buruk bagi rakyat. Melalui janji-janji bapak, jargon-jargon bapak untuk mengubah negeri ini menjadi negeri yang baru, saya berharap Indonesia akan menemui masa kejayaanya kembali seperti saat Indonesia dipimpin oleh Ir. Soekarno.

Semoga pelaksanaan Pemilu di Indonesia kedepannya bisa merepresentasikan pilihan rakyat yang sesungguhnya. Pemilu yang bersih sangat diharapkan oleh seluruh rakyat Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas pemerintahan dimasa yang akan datang. Aaamiinn,...

 
Surat ini ditulis dalam rangka keikut sertaan lomba menulis surat untuk Pak Jokowi.

Dengan tema “ Dari anak muda untuk Jokowi : Tentang pemilu bersih”
Semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar