Awalnya gini, sekitar 2 tahun yang lalu aku sering memperhatikan sebuah papan nama yang bertuliskan “Sekolah Alam Jingga, character education” pada salah satu jalan masuk perumahan di kawasan Bekasi. Gimana gak sering perhatiin, lokasi papan nama itu berada persis di pinggir jalan perjuangan yang biasa aku lewati ketika pergi dan pulang kerja. Aku penasaran aja bagaimana lay out sekolahnya, apa mungkin dalam sebuah perumahan di kota Bekasi yang gersang ada hutannya?. Sesuai informasi yang aku dapat dari televisi menggambarkan kalau sekolah alam itu hanya berada di daerah pegunungan yang hijau, dekat hutan, belajarnya di luar ruangan, udaranya dingin, ada air yang ngucur langsung dari gunung, dll. Yaaa, begitulah pemahamanku tentang konsep sekolah alam. Hehehe...
Aku yang dalam kurun waktu 2 tahun belakangan memang sedang memperhatikan dunia pendidikan, agak tergelitik untuk tau lebih jauh tentang konsep sekolah alam ini. Tapi, rasa ingin tau yang kumiliki saat itu tak cukup kuat melawan intensitas kesibukan yang luar biasa mendera, mulai dari sibuk kuliah, persiapan pernikahan, ditambah musibah yang menimpa keluarga kami pada pertengahan tahun 2013 yang lalu sedikit banyak menuntut agar aku tetap fokus pada track. Penasaran tinggallah penasaran, aku mulai lupa kalau sebelumnya sempet antusias cari tahu tentang sekolah alam. Bener-bener lupa...
Emang bener ya, sebuah niat atau keinginan tulus yang udah diucapin dalam hati terdalam seorang manusia itu “mungkin” bisa meluluhkan Allah untuk segera mewujudkannya. Yang penting tulus, itu aja. Berawal dari kegalauan tentang pekerjaan saat itu dan rutinitas yang didominasi oleh kepentingan duniawi sering kali membuat saya resah. Resah, apakah saya akan terus seperti ini? Bekerja dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang ibadah wajib pun terbengkalai. Kalau sudah begitu bagaimana bisa meraih keberkahan dari uang yang diterima?. Resah, karena sebentar lagi aku akan menikah? Loooh... mau nikah kok malah resah. Harusnya bersyukur donk pas nikah udah punya kerjaan sendiri, jadi gak pusing lagi mikirin pemasukan buat keluarga. Apalagi kalo calon suami juga bekerja, jadi tambah enjoy.
Fiiiuuuuhhh.... kebanyakan kita memang berpikiran seperti itu, dan bagiku juga bukan kegiatan bekerja nya yang menjadi masalah. Namun karena hal lain, seperti banyaknya waktu yang tersita ditambah hal objektif dan subjektif lain yang kelihatannya juga mendominasi.
Semakin mendekati pernikahan, aku semakin membulatkan tekad untuk segera mengambil keputusan apakah aku harus melanjutkan pekerjaan saat itu atau mencari pekerjaan lain yang lebih friendly khususnya soal waktu. Terlintas di pikiran untuk banting setir menjadi guru, sebenernya niat jadi guru sudah lama, tapi baru kali ini aku benar2 meng-organisir pemikiran, sampai2 mencari tahu tentang persyaratan menjadi guru, mengikuti salah satu forum diskusi guru di facebook dan me-like fanpage lowongan kerja guru. Mulai saat itu aku kebanjiran notifikasi yang berisi tentang informasi lowongan sebagai guru, mulai dari guru privat hingga guru kelas. Tentu saja tanpa buang waktu langsung share CV serta ijazah ke beberapa alamat email yang sedang membuka recruitment menjadi guru. Nah,,,, salah satu sekolah yang sedang open recruitment adalah Sekolah Alam Jingga yang sudah lama aku lupakan itu. Tiba-tiba saja ingatanku mengalir ke belakang, “Oooohhh ini Sekolah Alam yang deket rumah itu kan? Wah, jangan sampe kelewat nih”. Sambil senyum-senyum semangat.
Singkat cerita, satu bulan setelah menikah aku mulai bekerja di Sekolah ini, tentu saja setelah mengundurkan diri dari pekerjaan yang lama. Semua urusan disana sudah aku selesaikan, alhamdulillah prosesnya pun dimudahkan. Awalnya aku berpikir atasanku yang notabene adalah seorang ex-patriat yang keras akan mempersulit proses pengunduran diriku. Namun diluar dugaan, justru beliau langsung menyetujuinya. Aku pun merasa takjub melihat kenyataan yang tidak disangka-sangka ini. Hal ini pula lah yang membuatku semakin yakin bahwa Allah me ridhoi apa yang sudah aku putuskan. Ditambah izin dari suami pun sudah di kantongi. Tak terbayang betapa bahagianya aku kala itu.
Matahari itu berwarna Jingga...
Sekolah Alam Jingga, itu nama sekolah yang menjadi tempat baruku mengais rezeki. Subhanallah...Sungguh apa yang aku impikan tentang suasana kerja yang islami, edukatif, berpendidikan, namun jauh dari kesan hanya mengejar dunia langsung aku rasakan. Disini tidak ada atasan dan bawahan, semua memiliki hak yang sama. Murid-murid pun bergaul dengan sesama teman sekelasnya juga berteman akrab dengan yang bukan teman sekelasnya. Seakan tidak ada jarak diantara mereka, tidak ada senioritas maupun junioritas. Semua belajar, bermain dan berkumpul bersama-sama.
Rasanya, matahari bersinar lebih terang pagi itu, berwarna jingga cerah. A New Hope telah hadir, disinilah impian akan terwujud. Disinilah aku akan membangun batu bata peradaban. (nyontek kata-kata nya pak Isnan) Hehehe... generasi islami terbaik akan lahir dari sini, dari sebuah sekolah alam di ujung jalan perjuangan. Dan aku..... akan menjadi salah satu manusia yang tersenyum bangga di masa tuanya, jika salah satu dari generasi terbaik itu muncul di permukaan sebagai pribadi yang hebat di mata dunia. Tak tanggung-tanggung, Allah pun akan mengganjar dengan cahaya (pahala) yang tiada henti-hentinya atas nilai-nilai kebaikan yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah aku tanamkan kepada mereka. Bahkan cahaya itu akan menerangi sampai ke liang lahatku. Betapa ini yang di idam-idamkan. Hidup di dunia ini akan berakhir dengan kematian, dan kematian yang indah adalah idaman setiap orang beriman.
Jingga, a journey to heaven....
Jingga, sebuah perjalanan menuju surga...
Semoga bermanfaat

keren isinya :) tetap semangat bu Yuni
BalasHapus