Rabu, 04 Maret 2015

Jingga Literary Club : Chapter 1

Kemarin, tepatnya sore hari selepas pulang sekolah, kegiatan klub literasi telah dimulai. Sekitar pkl 13.50 sambil membawa tas pink nya, seorang anak menghampiri saya. "Bu, ayo..." ajaknya. Ya, saya tahu maksudnya adalah mengajak saya untuk segera memulai kegiatan klub. Namun karena masih diliputi sedikit kesibukan di ruang kantin dimana ruang ini menjadi ruang utama saya, saya menjawab, "sebentar ya... 5 meniit lagi. Yg lain juga msh dikelas, ditunggu ya...".

Selang beberapa menit, anak2 peserta klub telah siap duduk berbaris, begitu juga dengan saya, telah siap dengan materi yang akan saya sampaikan. Karena ini adalah pertemuan pertama, materi saya buat tidak terlalu banyak. Di awal saya menanyakan apa motivasi mereka mengikuti klub literasi. Jawabannya beragam, ada yang karena merasa berbakat menulis, ada yang suka baca buku cerita, ada yang suka berimajinasi dll. Selain itu saya juga menanyakan apa yang mereka rasakan ketika sedang membaca atau menulis, kebanyakan mereka merasa senang karena saat membaca mereka bisa berimajinasi, begitupun saat menulis salah satu dari mereka bisa mencurahkan isi hati sekaligus penghilang resah.

Masuk ke materi, saat saya buka slide dan mereka lihat di layar hanya ada tulisan "anak nakal, kepala sekolah dan pemilik kebun". Mereka bertanya, "apaan sih itu bu?" Namun tidak saya jawab. Agar mereka semakin penasaran saya lanjut ke slide berikutnya, terlihat gambar seperti dibawah ini.

Semakin banyaklah komentar mereka, " itu nenek sihir ya bu?" Ada juga yg bilang, "saya tahu, itu kepala sekolahnya adalah tukang sihir, terus anak2 muridnya di sihir biar pada naik pohon". Sungguh luar biasa imajinasi mereka. Ya, memang sekilas ada satu karakter yang mirip dengan nenek sihir. Namun, sebenarnya itu adalah sosok kepala sekolah yang sedang menegur anak2 muridnya.

Saya melanjutkan ke slide berikutnya, mulai terlihat isi cerita nya. "Ayo, siapa yang mau bantu ibu untuk bacain ceritanya ke depan?", "saya bu..." sambil mengacungkan jari si anak bawang (karena dia paling kecil dibanding peserta lain) terlihat sangat siap untuk membaca cerita.

Setelah membaca sampai kalimat terakhir, saya memerintahkan mereka untuk melanjutkan cerita tersebut dengan imajinasi mereka masing-masing. Subhanallah, ternyata luar biasa imajinasi mereka. Mereka mampu menuliskan pengembangan cerita tersebut dengan cara mereka masing2. Walau harus dengan beberapa arahan dan stimulasi terlebih dahulu agar imajinasi mereka semakin berkembang. Namun, secara umum mereka telah mampu mengembangkan ceritanya dengan cukup baik.

Di akhir, saya memerintahkan mereka untuk menyebutkan apa makna dan pesan dari cerita yang mereka kembangkan tersebut.

Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan bisa berada di tengah2 mereka. Canda tawa, kelucuan demi kelucuan yang diciptakan oleh mereka mampu membuat saya merasa bahagia, sejenak melupakan hal-hal yang menjadi beban pikiran.

Ehhhmmm... inilah impian saya. Sederhana, namun penuh makna.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar