Sabtu, 07 Maret 2015

Jingga, rahasia kebugaran tubuh saya

Kalau dulu saya paling rajin kena flu, setidaknya dalam 1 bulan bisa 2 kali izin gak masuk kerja karena sakit. Namun, 3 bulan belakangan setelah bergabung dengan Jingga saya merasa ada banyak perubahan pada kesehatan saya. Saya merasa lebih bugar dan lebih sehat dari sebelumnya. In syaa Allah... aamiiinn....

Betapa tidak, kalau di hitung2 minimal dalam seminggu saya sudah melakukan gerak jalan sejauh kurang lebih 2 sampai 3 km. Fiiuuuuhhh... sungguh luar biasa bukan? Atau biasa saja? Whatever lah yaa.... Terhitung mulai dari keluar kereta saya harus berjalan sekitar 100-200 meter menuju pintu keluar stasiun, dilanjutkan saat turun dari angkot masih harus berjalan sekitar 300 meter lagi menuju sekolah. Itu saya lakukan rutin setiap hari.

Kalau dalam olah raga angkat besi, beban bisa ditambah atau dikurangi mengikuti kemampuan si atlet. Disini beban bisa bertambah kapanpun, tak terduga, bahkan saat kita belum siap sekalipun. Tambahan beban itu bisa berupa hujan yang turun tiba2, sehingga membuat akses jalan becek atau bahkan banjir. Karena itu langkah pun terasa semakin berat, menuntut seluruh anggota badan untuk mengeluarkan energi lebih agar tercipta sebuah gerakan.Tak jarang sebelum sampai sekolah, nafas sudah terengah, wajah pun terlihat gerah.

Dari situ, saya menarik kesimpulan bahwa perjuangan saya untuk sampai ke Jingga sedikit banyak telah memberi efek pada kesehatan tubuh saya. Setidaknya bagi otot2 saya yang selama ini mungkin loyo karena kemana2 selalu berkendara, itupun posisinya sebagai boncengers atau nebengers yang mana kewajibannya hanya duduk manis lalu sampai. Hihihuhu...

Disamping itu, perasaan senang kala bertemu anak2 yang lucu setiap hari menambah energi positif yang secara tidak langsung ber-efek juga terhadap kesehatan rohani saya. Sudah banyak artikel yang membahas bahwa kesehatan rohani juga sangat berpengaruh pada kesehatan jasmani.

Namun yang paling penting dari itu semua adalah ganjaran pahala dari Allah swt, tiap langkah kita in syaa allah akan menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari pembalasan nanti.

Sungguh paling baik urusan orang beriman itu, jika ia mendapat kesusahan maka ia bersabar, jika ia mendapat kenikmatan ia bersyukur.

Demikianlah rahasia kesehatan saya, semoga bisa menginspirasi sahabat semua.

Allahu a'lam bish showab...

Matahari itu berwarna Jingga


Awalnya gini, sekitar 2 tahun yang lalu aku sering memperhatikan sebuah papan nama yang bertuliskan “Sekolah Alam Jingga, character education” pada salah satu jalan masuk perumahan di kawasan Bekasi. Gimana gak sering perhatiin, lokasi papan nama itu berada persis di pinggir jalan perjuangan yang biasa aku lewati ketika pergi dan pulang kerja. Aku  penasaran aja bagaimana lay out sekolahnya, apa mungkin dalam sebuah perumahan di kota Bekasi yang gersang ada hutannya?. Sesuai informasi yang aku dapat dari televisi menggambarkan kalau sekolah alam itu hanya berada di daerah pegunungan yang hijau, dekat hutan, belajarnya di luar ruangan, udaranya dingin, ada air yang ngucur langsung dari gunung, dll. Yaaa, begitulah pemahamanku tentang konsep sekolah alam. Hehehe...

Aku yang dalam kurun waktu 2 tahun belakangan memang sedang memperhatikan dunia pendidikan, agak tergelitik untuk tau lebih jauh tentang konsep sekolah alam ini. Tapi, rasa ingin tau yang  kumiliki saat itu tak cukup kuat melawan intensitas kesibukan yang luar biasa mendera, mulai dari sibuk kuliah, persiapan pernikahan, ditambah musibah yang menimpa keluarga kami pada pertengahan tahun 2013 yang lalu sedikit banyak menuntut agar aku tetap fokus pada track. Penasaran tinggallah penasaran, aku mulai lupa kalau sebelumnya sempet antusias cari tahu tentang sekolah alam. Bener-bener lupa...

Emang bener ya, sebuah niat atau keinginan tulus yang udah diucapin dalam hati terdalam seorang manusia itu “mungkin” bisa meluluhkan Allah untuk segera mewujudkannya. Yang penting tulus, itu aja. Berawal dari kegalauan tentang pekerjaan saat itu dan rutinitas yang didominasi oleh kepentingan duniawi sering kali membuat saya resah. Resah, apakah saya akan terus seperti ini? Bekerja dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang ibadah wajib pun  terbengkalai. Kalau sudah begitu bagaimana  bisa meraih keberkahan dari uang yang diterima?. Resah, karena sebentar lagi aku akan menikah? Loooh... mau nikah kok malah resah. Harusnya bersyukur donk pas nikah udah punya kerjaan sendiri, jadi gak pusing lagi mikirin pemasukan buat keluarga. Apalagi kalo calon suami juga bekerja, jadi tambah enjoy. 
Fiiiuuuuhhh.... kebanyakan kita memang berpikiran seperti itu, dan bagiku juga bukan kegiatan bekerja nya yang menjadi masalah. Namun karena hal lain, seperti banyaknya waktu yang tersita ditambah hal objektif dan subjektif lain yang kelihatannya juga mendominasi.

Semakin mendekati pernikahan, aku semakin membulatkan tekad untuk segera mengambil keputusan apakah aku harus melanjutkan pekerjaan saat itu atau mencari pekerjaan lain yang lebih friendly khususnya soal waktu. Terlintas  di pikiran untuk banting setir menjadi guru, sebenernya niat jadi guru sudah lama, tapi baru kali ini aku benar2 meng-organisir pemikiran, sampai2 mencari tahu tentang persyaratan menjadi guru, mengikuti salah satu forum diskusi guru di facebook dan me-like fanpage lowongan kerja guru. Mulai saat itu aku kebanjiran notifikasi yang berisi tentang informasi lowongan sebagai guru, mulai dari guru privat hingga guru kelas. Tentu saja tanpa buang waktu langsung share CV serta ijazah ke beberapa alamat email yang sedang membuka recruitment menjadi guru. Nah,,,, salah satu sekolah yang sedang open recruitment adalah Sekolah Alam Jingga yang sudah lama aku lupakan itu. Tiba-tiba saja ingatanku mengalir ke belakang, “Oooohhh ini Sekolah Alam yang deket rumah itu kan? Wah, jangan sampe kelewat nih”. Sambil senyum-senyum semangat.

Singkat cerita, satu bulan setelah menikah aku mulai bekerja di Sekolah ini, tentu saja setelah mengundurkan diri dari pekerjaan yang lama. Semua urusan disana sudah aku selesaikan, alhamdulillah prosesnya pun dimudahkan. Awalnya aku berpikir atasanku yang notabene adalah seorang ex-patriat yang keras akan mempersulit proses pengunduran diriku. Namun diluar dugaan,  justru beliau langsung menyetujuinya. Aku pun merasa takjub melihat kenyataan yang tidak disangka-sangka ini. Hal ini pula lah yang membuatku semakin yakin bahwa Allah me ridhoi apa yang sudah aku putuskan. Ditambah izin dari suami pun sudah di kantongi. Tak terbayang betapa bahagianya aku kala itu.

Matahari itu berwarna Jingga... 

Sekolah Alam Jingga, itu nama sekolah yang menjadi tempat baruku mengais rezeki. Subhanallah...Sungguh apa yang aku impikan tentang suasana kerja yang islami, edukatif, berpendidikan, namun jauh dari kesan hanya mengejar dunia langsung aku rasakan. Disini tidak ada atasan dan bawahan, semua memiliki hak yang sama. Murid-murid pun bergaul dengan sesama teman sekelasnya juga berteman akrab dengan yang bukan teman sekelasnya. Seakan tidak ada jarak diantara mereka, tidak ada senioritas maupun junioritas. Semua belajar, bermain dan berkumpul bersama-sama. 

Rasanya, matahari bersinar lebih terang pagi itu, berwarna jingga cerah. A New Hope telah hadir, disinilah impian akan terwujud. Disinilah aku akan membangun batu bata peradaban. (nyontek kata-kata nya pak Isnan) Hehehe... generasi islami terbaik akan lahir dari sini, dari sebuah sekolah alam di ujung jalan perjuangan. Dan aku..... akan menjadi salah satu manusia yang tersenyum bangga di masa tuanya, jika salah satu dari generasi terbaik itu muncul di permukaan sebagai pribadi yang hebat di mata dunia. Tak tanggung-tanggung, Allah pun akan mengganjar dengan cahaya (pahala) yang tiada henti-hentinya atas nilai-nilai kebaikan yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah aku tanamkan kepada mereka. Bahkan cahaya itu akan menerangi sampai ke liang lahatku. Betapa ini yang di idam-idamkan. Hidup di dunia ini akan berakhir dengan kematian, dan kematian yang indah adalah idaman setiap orang beriman.
 
Jingga, a journey to heaven....

Jingga, sebuah perjalanan menuju surga...

Semoga bermanfaat

Rabu, 04 Maret 2015

Jingga Literary Club : Chapter 1

Kemarin, tepatnya sore hari selepas pulang sekolah, kegiatan klub literasi telah dimulai. Sekitar pkl 13.50 sambil membawa tas pink nya, seorang anak menghampiri saya. "Bu, ayo..." ajaknya. Ya, saya tahu maksudnya adalah mengajak saya untuk segera memulai kegiatan klub. Namun karena masih diliputi sedikit kesibukan di ruang kantin dimana ruang ini menjadi ruang utama saya, saya menjawab, "sebentar ya... 5 meniit lagi. Yg lain juga msh dikelas, ditunggu ya...".

Selang beberapa menit, anak2 peserta klub telah siap duduk berbaris, begitu juga dengan saya, telah siap dengan materi yang akan saya sampaikan. Karena ini adalah pertemuan pertama, materi saya buat tidak terlalu banyak. Di awal saya menanyakan apa motivasi mereka mengikuti klub literasi. Jawabannya beragam, ada yang karena merasa berbakat menulis, ada yang suka baca buku cerita, ada yang suka berimajinasi dll. Selain itu saya juga menanyakan apa yang mereka rasakan ketika sedang membaca atau menulis, kebanyakan mereka merasa senang karena saat membaca mereka bisa berimajinasi, begitupun saat menulis salah satu dari mereka bisa mencurahkan isi hati sekaligus penghilang resah.

Masuk ke materi, saat saya buka slide dan mereka lihat di layar hanya ada tulisan "anak nakal, kepala sekolah dan pemilik kebun". Mereka bertanya, "apaan sih itu bu?" Namun tidak saya jawab. Agar mereka semakin penasaran saya lanjut ke slide berikutnya, terlihat gambar seperti dibawah ini.

Semakin banyaklah komentar mereka, " itu nenek sihir ya bu?" Ada juga yg bilang, "saya tahu, itu kepala sekolahnya adalah tukang sihir, terus anak2 muridnya di sihir biar pada naik pohon". Sungguh luar biasa imajinasi mereka. Ya, memang sekilas ada satu karakter yang mirip dengan nenek sihir. Namun, sebenarnya itu adalah sosok kepala sekolah yang sedang menegur anak2 muridnya.

Saya melanjutkan ke slide berikutnya, mulai terlihat isi cerita nya. "Ayo, siapa yang mau bantu ibu untuk bacain ceritanya ke depan?", "saya bu..." sambil mengacungkan jari si anak bawang (karena dia paling kecil dibanding peserta lain) terlihat sangat siap untuk membaca cerita.

Setelah membaca sampai kalimat terakhir, saya memerintahkan mereka untuk melanjutkan cerita tersebut dengan imajinasi mereka masing-masing. Subhanallah, ternyata luar biasa imajinasi mereka. Mereka mampu menuliskan pengembangan cerita tersebut dengan cara mereka masing2. Walau harus dengan beberapa arahan dan stimulasi terlebih dahulu agar imajinasi mereka semakin berkembang. Namun, secara umum mereka telah mampu mengembangkan ceritanya dengan cukup baik.

Di akhir, saya memerintahkan mereka untuk menyebutkan apa makna dan pesan dari cerita yang mereka kembangkan tersebut.

Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan bisa berada di tengah2 mereka. Canda tawa, kelucuan demi kelucuan yang diciptakan oleh mereka mampu membuat saya merasa bahagia, sejenak melupakan hal-hal yang menjadi beban pikiran.

Ehhhmmm... inilah impian saya. Sederhana, namun penuh makna.