Diawali dengan kelulusanku dari sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta. Aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Tidak seperti kebanyakan teman-teman aku tidak pernah memiliki rencana untuk langsung bekerja selepas lulus sekolah, impianku sejak dulu justru ingin sekali melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi, setelah itu baru mencari pekerjaaan di perusahaan yang bonafit. Setiap hari mengenakan pakaian necis, terlihat sibuk didepan komputer, meeting sana-sini, dan sebagainya. Menjelang kelulusan aku semakin sering mengutarakan keinginanku pada orang tua untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi, hal ini tercermin pada seringnya aku memberikan brosur-brosur kampus kepada mereka yang entah aku dapatkan dari mana brosur-brosur itu. Aku tak pernah memikirkan apapun kecuali kuliah, kuliah dan kuliah saat itu.
Tapi dibalik itu semua, aku mendapati bahwa kenyataanya keluargaku bukanlah keluarga berada, orang tuaku menyampaikan bahwa mereka tidak akan sanggup membayar biaya kuliahku nanti. Aku langsung terpuruk kala itu, mamun dengan sisa-sisa semangat yang masih ada, aku mulai bangkit dari keterpurukan. Beberapa hari setelah menerima hasil kelulusan, Bapak memintaku untuk membuat sebuah surat lamaran pekerjaan. Sesuai informasi bahwa mantan bos Bapak sedang mebutuhkan sekretaris. Aku terhenyak, Sekretaris...???? yang bener pak? , ucapku. Seketika itu pikiranku melayang pada suatu keadaan dimana aku akan menggunakan pakaian necis dan sepatu hak tinggi setiap kali pergi ke kantor. Singkat cerita, setelah itu aku langsung diterima bekerja, Subhanallah wal hamdulillah... ucapku. Ternyata Allah menjawab semua keinginanku, inilah yang aku impikan selama ini. Bisa bekerja disebuah perusahaan yang terbilang bonafit, lokasinya pun di kawasan perkantoran mewah di bilangan Jakarta Pusat, gedung-gedung mewah pencakar langit menjadi pemandanganku setiap hari.
Beberapa minggu bekerja aku mulai menikmati keadaan. Namun, keadaan berubah ketika memasuki bulan kedua. Aku mulai merasakan tekanan dalam bekerja, atasan dan seniorku mulai banyak mendikte pekerjaanku. Aku mulai jenuh dengan rutinitas itu. Setelah berpikir panjang akhirnya aku putuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan itu. Singkat cerita, aku pindah bekerja ditempat lain dan akhirnya impianku untuk kuliah pun terwujud. Aku membiayai kuliahku dari gaji bulanan yang aku terima.
Masuk ke dunia kampus, membuatku semakin banyak koneksi dan informasi mengenai dunia kerja. Hingga suatu hari, aku ditawari untuk bekerja disebuah perusahaan dimana staf HRD nya adalah teman sekelasku. Entah mengapa tanpa pikir panjang aku langsung menerima tawaran itu, seolah-olah aku punya pandangan bahwa rezekiku banyak berada disana. Dengan modal nekat aku memutuskan untuk menerima tawaran itu dan bekerja di divisi Marketing. Walau temanku sempat bercerita divisi ini adalah divisi yang cukup menyeramkan karena managernya adalah orang Jepang langsung, juga pressure dari customer dan atasan bisa saja tiba-tiba membuat kita terkena penyakit thypus. Hahahaaaa....
Benar saja, baru sebulan bekerja di divisi ini aku langsung dirawat dirumah sakit karena demam berdarah. Dengan sedikit terpaksa aku mulai menikmati pekerjaanku sebagai marketing, namun hati seperti tidak bisa sepenuhnya aku berikan pada pekerjaan ini. Sempat pada satu pagi didalam bus jemputan karyawan aku berkata dalam hati Yaa Allah... sungguh semakin bus ini melaju, semakin hilang semangatku. Rasanya aku tidak ingin cepat-cepat sampai di tempat kerja. Saat ini aku hanya bisa berserah diri kepada Allah, berpikir positif setiap hari, tersenyum pada rekan-rekan sekerja, dan selalu bercanda bersama mereka. Yaa,, mungkin hal-hal semacam itu yang membuatku bisa bertahan hingga detik ini.
Sampai suatu hari, untuk sekedar menghilangkan kejenuhan pada masa libur panjang idul fitri, aku menemukan satu ide untuk membuat sebuah blog pribadi. Karena aku gemar sekali berbagi melalui sebuah tulisan. Jujur, aku tergolong orang yang cukup sulit menggunakan skill verbalku. Mungkin hal ini pula lah yang membuatku lebih nyaman mengirim email kepada rekan kerja atau customer ketimbang berbicara langsung atau melalui telpon kepada mereka jika ada sesuatu yang ingin kusampaikan.
Setelah memiliki blog pribadi aku merasa senang sekali, tanpa diduga sebuah tulisanku membawaku menjadi pemenang sebuah lomba menulis. Sejak saat itu aku seperti menemukan gairah hidupku kembali yang sudah bertahun-tahun hilang. Aku semakin tidak bisa membohongi diriku bahwa passionku adalah menulis, karena dengan menulis aku bisa bebas meng-aktualisasi-kan diriku. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan lebih jujur. Akupun berencana untuk menekuni dan belajar lebih banyak mengenai dunia menulis. Aku berharap suatu saat bisa menjadi seorang penulis hebat yang karyanya bisa berguna bagi pembaca.
Sebagai seorang muslim aku sangat memahami bahwa yang kita bawa ke akhirat nanti hanyalah 3 perkara. Yaitu, shadaqoh jariyah, doa anak yang soleh dan ilmu yang bermanfaat. Saat ini aku sedang mengusahakan ketiganya dan pada bagian ilmu yang bermanfaat bisa aku salurkan melalui passionku ini, yaitu menulis. Karena dengan menulis aku bisa berbagi ilmu yang in syaa Allah bermanfaat bagi orang lain.
Satu hal yang perlu diingat ketika kita percaya bisa melakukan sesuatu, dan yakin dengan melakukan sesuatu itu kita bisa menjadi hebat, maka percayalah bahwa sesuatu itu adalah passion.
Semoga bermanfaat.
Minggu, 02 November 2014
Rabu, 17 September 2014
SURAT UNTUK JOKOWI
Pak Jokowi
yang terhormat,
Selamat atas
terpilihnya Bapak sebagai presiden RI periode 2014-2019.
Bagi saya,
bukanlah hal yang mudah mencari rangkaian kata yang tepat untuk menggambarkan
kesan mengenai pemilu 2014 , entah karena terlalu banyak kesan yang ditinggalkan
atau karena alasan hain. Tapi apapun itu,
saya tetap bangga menjadi warga negara Indonesia. Betapa tidak, negeri ini memiliki potensi luar
biasa yang bisa digali untuk kesejahteraan rakyat. Kemajemukan warganya,
terdiri dari bermacam-macam suku bangsa membuat kita semakin memiliki
keistimewaaan dimata dunia.
Begitu
banyak kesan yang diberikan oleh pelaksanaan hajat lima tahunan kali ini. Ada
perasaan senang, gembira, bangga, antusias, deg degan, sedih bahkan kecewa. Seolah-olah hati saya ini sedang diajak bermain
atau malah terkesan sedang dipermainkan,
saya sendiri tidak tahu. Berbeda dengan 2 pemilu yang sudah saya ikuti
sebelumnya, kali ini saya merasakan ada hal yang berbeda.
Pak Jokowi,
sungguh rakyat Indonesia sudah sangat rindu akan sosok pemimpin yang baik dan
berakhlakul karimah seperti Rasulullah. Tak Mudah memang mencari sosok seperti
beliau, namun bukankah kita selalu dituntut untuk memiliki sifat seperti beliau
dengan mengikuti sunnah-sunnah nya? Terlebih jika seseorang itu telah menjadi
pemimpin, merupakan hal yang sangat
mulia jika seorang pemimpin itu berusaha untuk mengikuti cara-cara Rasulullah
dalam memimpin dengan mengedepankan
sifat amanah yang diwariskan beliau. Semoga
bapak selalu diberi kemudahan oleh Allah.
Pak Jokowi,
bapak juga pasti merasakan ternyata didalam sistem demokrasi yang katanya
semakin dewasa dinegeri ini masih saja ditemui perilaku-perilaku amoral. Mohon
maaf jika saya memilih kata amoral dalam tulisan ini, karena hampir tidak ada
kata lain yang bisa menggambarkan perilaku para pejabat tinggi di negeri ini.
Terkait pemilu, perilaku itu ditunjukkan melalui kegiatan politik uang, swap,
atau kecurangan-kecurangan lain yang mungkin tidak terlalu terpublikasi. Bahkan
saya mendengar langsung, pada pemilihan legislatif kemarin seorang teman
mendapatkan sejumlah uang agar memilih
salah satu caleg yang tengah berkompetisi. Walaupun saya belum pernah menerima
langsung uang-uang sogokan itu, namun cukup bagi saya kesaksian dari teman dan
beberapa berita tv yang memberitakan hal tersebut untuk saya mempercayainya. Mungkin Allah masih
melindungi saya dan keluarga dari rezeki
yang sumbernya tidak halal.
Lalu
bagaimana dengan pilpres tahun ini? Pilpres kali ini juga tidak lepas dari perilaku yang kurang
baik, ramainya kampanye hitam, saling menjatuhkan, sampai-sampai beberapa
stasiun televisi tidak mau kalah ikut memberi andil dalam perhelatan. Yang
membuat saya kecewa, mereka terkesan tidak netral bahkan terkesan saling
menjatuhkan. Bagaimana tidak, sempat diberitakan bahwa salah satu kantor stasiun
televisi akan didemo dan dihancurkan oleh katakanlah beberapa oknum. Terlepas
berita itu benar atau tidak hal ini membuktikan betapa besar efek dari kampanye hitam atau pemberitaan yang yang saling memojokan itu bagi masyarakat. Belum
lagi masalah teknis pemilu, seperti penetapan DPT, penghitungan suara, dsb. Khususnya
soal perhitungan suara, sampai – sampai harus ada pengajuan banding ke MK oleh
salah satu kandidat karena hasil perhitungan yang dilakukan oleh KPU berbeda
dengan versi mereka. Ini merupakan salah satu efek masih lemahnya sistem
pemilu kita. Saya memang tidak banyak mengerti soal sistem atau program
komputer. Namun, saya rasa metode perhitungan KPU nantinya perlu dikembangkan secara
komputerisasi atau online karena metode
ini adalah yang paling mudah dilakukan untuk meminimalisir kejadian-kejadian
seperti ini. Disamping
kelemahan-kelemahannya, sistem komputerisasi atau online menawarkan banyak
kemudahan dan keakuratan data lebih dapat diandalkan.
Soal isu-isu
kecurangan dalam pemilu kali ini,
mungkin saya adalah salah satu orang yang cukup vokal soal ini,
dibeberapa kesempatan baik melalui sosial media atau saat ngobrol-ngobrol
dengan teman, saya sering menyuarakan
betapa saya sangat tidak terima jika memang hal ini benar-benar terjadi. Tentu
saja, ini merupakan tindak kejahatan dalam sistem demokrasi kita. Betapa besar
biaya yang dikeuluarkan oleh negara untuk menyelenggarakan pemilu, namun hasil
yang didapat adalah hasil yang di dominasi oleh kecurangan. Betapa rakyat
sangat dilukai atas kezaliman ini,
semoga Allah selalu melindungi negeri ini dari bencana-bencana.
Pak Jokowi,
semoga Bapak bisa membawa perubahan yang baik di negeri ini, namun bukankah
perubahan yang baik itu seharusnya melalui proses yang baik pula serta diridhoi
oleh Allah swt? Semoga bapak bisa menjadi pribadi yang selalu dekat dengan
Allah, karena ketika Bapak dekat dengan Allah, semua akan berjalan dengan baik.
Khususnya dalam memimpin negeri ini. Tidak akan ada lagi korupsi, politik uang,
dan kebijakan-kebijakan yang berdampak buruk bagi rakyat. Melalui janji-janji bapak, jargon-jargon bapak
untuk mengubah negeri ini menjadi negeri yang baru, saya berharap Indonesia
akan menemui masa kejayaanya kembali seperti saat Indonesia dipimpin oleh Ir.
Soekarno.
Semoga
pelaksanaan Pemilu di Indonesia kedepannya bisa merepresentasikan pilihan
rakyat yang sesungguhnya. Pemilu yang bersih sangat diharapkan oleh seluruh
rakyat Indonesia dalam rangka meningkatkan kualitas pemerintahan dimasa yang
akan datang. Aaamiinn,...
Dengan tema “
Dari anak muda untuk Jokowi : Tentang pemilu bersih”
Semoga bermanfaat...
Jumat, 01 Agustus 2014
Mari persiapkan Khusnul Khotimah!!!
Mari, persiapkan khusnul khotimah!!!
Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Ya Allah ya rahiim...Tak henti-hentinya diri ini mengucap syukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan sampai detik ini. Sungguh besar kuasaMu atas alam ini dan seisinya, tak ada daya dan upaya selain dariMu.
Ya Allah... tetapkanlah nikmat iman dan islam sampai akhir hayat kami, jadikanlah akhir hidup kami adalah akhir yang indah, yang baik serta dipenuhi cahaya keimanan. Mudahkanlah kami mengucap kalimat Laa Ilaaha Illallah saat maut menjemput, jangan kau biarkan Syaitan menggoyahkan keimanan kami.
Sungguh saat itu adalah saat yang amat menyakitkan, maka kuatkanlah kami.
Saat itu adalah saat yang menyulitkan, maka mudahkanlah kami.
Saat itu adalah penanda apakah kami berhak menerima surgaMu atau NerakaMu.
Saat itu adalah saat dimana syaitan mengeluarkan segala daya upayanya yang terbaik untuk menyesatkan kami agar menjadi kafir, maka berikanlah kekuatan untuk kami menolak ajakan Syaitan.
Yaa Allah... sungguh berat siksaanMu, sungguh pedih azabMu, bahkan membayangkannya pun kami tak sanggup.
Semoga kita semua di matikan dalam keaadaan khusnul khatimah, Aamiinn...
Sahabat yang dimuliakan oleh Allah...
Semoga rangkaian doa diatas membuat hati kita yang awalnya keras menjadi lembut, ingat akan hakikat hidup yang sesungguhnya.
Betapa dunia ini telah menyilaukan kita, melalaikan kita sehingga lupa akan tujuan hidup dan apa maksud dari penciptaan manusia yang sesungguhnya.
Mungkin tema diatas sangat berat untuk dibahas apalagi bagi saya seorang yang fakir ilmu. Namun, dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, tak menghilangkan niat saya untuk tetap berbagi dan saling mengingatkan pada kebenaran tanpa bermaksud untuk menggurui.
Saya ingat, beberapa minggu yang lalu saat pertengahan bulan ramadhan saya berkesempatan bertemu dengan salah seorang teman untuk buka puasa bersama, tepat di hari pemilihan umum presiden tanggal 9 Juli 2014. Dia datang dengan suaminya dan bayi nya yang lucu, usia bayi nya masih kurang dari setahun tapi saya lupa tepatnya berapa bulan. Sambil menyantap hidangan kami bercerita banyak hal, namun tentu tak jauh dari soal agama islam. Maklum, suami temanku itu memang seorang calon ustadz sepertinya, hehehe... Aamiinn...
Dalam salah satu ceritanya dia menyinggung soal hakikat hidup dan kematian... hhuuu... seereemm... kalo nyeritainya di tempat umum kayak gitu sih gak serem, tapi lain cerita mungkin kalau ditengah kuburan.
Dari cerita itu terlontar pertanyaan dari saya kurang lebih seperti ini "jadi, khusnul khotimah itu takdir atau bukan, atau kita harus mengusahakannya?"
Jawabannya, ternyata khusnul khatimah atau su'ul khatimah itu bukan takdir atau lebih tepatnya mungkin bukan takdir hakiki, kalaupun memang sebenarnya kita sudah ditakdirkan su'ul khatimah kita bisa mengusahakannya agar bisa menjadi khusnul khatimah, penentuan itu lebih kepada jalan hidup seperti apa yang kita pilih selama ini. Pendekatan seperti ini mungkin yang paling gampang saya cerna. Namun, tak menutup kemungkinan ketika saya menemui pendekatan yang lebih masuk akal dan lebih baik dari ini saya akan merubahnya.
Jadi selama ini salah kalau masih ada yang berpikiran "hidup ga usah terlalu lurus, santai aja toh yang tau kematian kita hanya Allah, yang baik bisa jadi jahat atau sebaliknya yang jahat juga bisa jadi baik, cuma Allah yang tau kita gak usah banyak cincong laahh... ribet. Hidup udah susah gak usah dibuat makin susah, santai aja. Yang penting kita hidup gak nyusahin orang dan baik sama orang lain, udah cukup".
Saya juga sering mendengar kalimat seperti ini "muda foya foya, tua kaya raya, mati masuk surga" astagfirullah... dari kalimat itu tersirat betapa harta menjadi tujuan utama , tak penting beribadah kepada Allah, padahal Allah tidak pernah menjanjikan surgaNya karena harta yang dimiliki, melainkan karena ketakwaan kita kepada Allah. kalaupun ada janji Allah adalah untuk harta yang di sedekahkan bukan untuk yang di foya foya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Allah sangat membenci orang yang berlebih-lebihan membelanjakan hartanya untuk urusan duniawi, kecuali di sedekahkan di jalan Allah.
Jujur setiap kali saya mendengar kata2 seperti diatas baik dari sahabat, rekan kerja atau terkadang dari sinetron (koban sinetron, dulu sih sekarang udah gak, gak terlalu banyak tapi masih sedikit maksudnya, hehehe...) saya langsung tergelitik untuk mengomentari, baik komentar yang langsung diucapkan ataupun hanya didalam hati. Karena jika prinsip hidup kita hanya berdasarkan yang penting baik dan tidak jahat tanpa mengindahkan perintah Allah yang lain tentang beribadah, menjauhi yang haram, menutup aurat dll, lalu untuk apa Allah menurunkan Al qur'an, cukuplah Allah memberikan kita insting untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk, that's it. Cukuplah kita berhubungan dengan sesama manusia saja (habluminannas) tanpa memikirkan bagaimana caranya berhubungan dengan Allah sang pencipta (Habluminallah).
Namun kenyataannya tidak seperti itu, dengan kasih sayangNya Allah telah menurunkan Al qur'an sebagai petunjuk agar kita dapat menentukan jalan mana yang akan kita ambil, karena setiap titik dan detik kehidupan yang kita lalui berisi berbagai macam pilihan.
Mungkin mudahnya seperti ini jika kita sedang berada di sebuah persimpangan jalan. Kita hanya boleh memilih satu jalan, kita tidak pernah tahu apa yang ada di sepanjang jalan-jalan tersebut. Sekali kita memilih salah satu jalan yang kita inginkan, kita tidak bisa kembali. Setiap jalan berakhir pada ujung yang berbeda. Adakalanya, di jalan yang kita pilih, kita dihadapkan lagi dengan persimpangan lain. Terus seperti itu. Suka atau tidak suka dengan ‘pemandangan’ dan ‘fasilitas’ yang ada di jalan yang kita pilih, itulah pilihan kita. Itulah takdir kita. Masalahnya adalah kita dituntut untuk memilih jalan yang benar, jika pilihan kita salah, maka dipastikan kita akan menyesal selamanya. Nah, untuk memilih jalan yang benar tersebut, Allah sudah menempatkan petunjukNya melalui Al qur'an. Seringkali kita sudah tahu tentang petunjuk tersebut, tapi kita sering mengabaikan petunjuk tersebut. Inilah yang menjadikan seseorang tersesat di suatu jalan.
Sebagaiman dijelaskan dalam surat al-kahfi ayat 29 :
Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir".
Misal, kita menemukan sebuah uang Rp 100.000 dijalan, banyak kemungkinan yang bisa kita lakukan bukan?. Kita bisa mengambil koin tersebut, hanya melihatnya dan terus berjalan, mengambilnya lalu menanyakan kepada orang sekitar siapa pemiliknya atau malah menendangnya kepinggir jalan. Setelah pilihan ditentukan mungkin kita akan dihadapkan pada pilihan kedua. contoh, Jika kita memilih untuk mengambilnya setelah itu banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, bisa kita gunakan untuk sedekah, beli minuman, bayar angkot, untuk berjudi dsb. Namun jika kita memutuskan untuk melihatnya dan terus berjalan, tentu hasilnya belum tentu sama dan mungkin kita tidak akan dihadapkan pada pilihan yang kedua.
Kita juga sering mendengar cerita tentang seorang pelacur yang bisa masuk surga hanya karena memberi makan seekor anjing yang kelaparan, mungkin itu agak melegakan bagi kita. Sebagaimana kita tahu perbuatan seorang pelacur adalah melanggar perintah Allah, namun masih memiliki kesempatan untuk masuk surga. Tentu saja kita tidak boleh menelan mentah2 cerita ini, jangan sampai karena mendengar cerita ini kita terlena dan tetap berbuat keburukan lalu berharap Allah mengampuni keburukan yang kita lakukan secara terus menerus. Tentu saja Allah tidak mungkin menginginkan kita masuk surga dengan jalan menjadi pelacur yang baik hati, kan? Ini hanya salah satu cerita tentang hakikat kebaikan, pesannya kebaikan itu walau sebesar zarrah pun tidak akan di sia-siakan oleh Allah bahkan jika kebaikan itu berasal dari seorang pelacur, tentu saja dengan syarat itu dilakukan dengan ikhlas dan disertai keimanan kepada Allah swt. Itulah pesan yang bisa kita ambil dari cerita ini, maka dari itu kita dianjurkan untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan sekecil apapun.
Pilihan manapun yang kita ambil, Allah sudah tahu bagaimana nasib kita selanjutnya, karena Allah sudah mencatat semua kemungkinan-kemungkinan itu. Dengan kata lain, mungkin, Allah hanya sedang ‘menonton’ saja saat ini, karena segala kemungkinan sudah tercatat. Sementara 2 malaikat yang setia mengikuti kita hanya membantu ‘menandai’ pilihan kita, persis seperti kita mengerjakan pilihan berganda, hanya saja pilihannya luar biasa banyaknya.
Nah, satu hal yang perlu kita sadari, kematian selalu terselip di setiap kemungkinan itu, jalan manapun yang kita pilih selalu ada kematian yang sedang menunggu kita. Rasulullah mengatakan bahwa yang paling dekat dengan kita bukanlah saudara, keluarga, sahabat atau yang lainnya melainkan kematian. Kita selalu dihadapkan dengan kemungkinan untuk mati. Itu artinya, bagaimana kita mati ditentukan juga oleh pilihan-pilihan hidup kita.
Dengan begitu, semakin jelaslah kenapa khusnul khotimah bisa kita usahakan. Bagaimana cara mengusahakannya itu bisa kita dapati dengan mempelajari kitabNya. Setelah mempelajarinya tentu diikuti dengan mengamalkan. Jangan pernah menyerah, tak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Hidup hanya sekali, jangan kita habiskan hanya untuk bersenang-senang, bersantai-santai, karena kesenangan yang hakiki sesungguhnya berada di akhirat. Ibaratnya saat ini kita hanya sedang berteduh dibawah pohon rindang, perjalanan kita menuju kampung halaman masih jauh, setelah ini masih ada alam barzakh, lalu dikumpulkan di padang mahsyar. Masya Allah, jika saja setiap kita menyadari akan hakikat hidup yang sebenarnya tentu kita akan lebih sering menangis dibanding tertawa. Saat nafas sudah diujung tenggorokan tak ada lagi yang bisa kita perbaiki, semuanya sudah terlambat. Sungguh penyesalan selalu datang diakhir. Jangan sampai kita dimatikan dalam keadaan tidak beriman dan ber islam. Allah bersabda :
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam".
(QS. Ali Imran : 102)
Berikut ini sebagian kecil tanda-tanda seseorang mati dalam keadaan husnul khotimah :
1. Ditinjau dari kata-kata terakhirnya, apabila kata-kata terakhirnya adalah kalimah-kalimah toyyibah, maka itu tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.
Dari Mu`adz bin Jabal Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa ucapan terakhirnya : La ilaha illallah, maka dia masuk surga" (HR Abu Daud & Al-Hakim).
Dari Anas bin Malik Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baiknya dzikir adalah La ilaha illallah dan sebaik-baiknya doa adalah Alhamdulillah" (HR At-Turmudzi & Ibnu Majah).
Karena itulah sunnah hukumnya membimbing orang yang sedang sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat tahlil.
Dari Abi Sa`id Al-Hudri Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Bimbinglah orang mati kalian untuk mengucapkan La ilaha illallah" (HR Muslim).
2. Di tinjau dari aktifitas terakhirnya, apabila seseorang di masa-masa akhir hidupnya beribadah baik ibadah mahdho maupun ghoiru mahdho dan dia meninggal dalam keadaan beribadah atau usai menjalankan ibadah maka itulah tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.
Dari Ali bin Abi Tholib Ra, Dia berkata : "Suatu hari saya akan menunaikan sholat subuh di mesjid bersama Rasulullah Saw, tapi ditengah jalan aku bertemu dengan seseorang yang sudah renta juga mau ke mesjid untuk menunaikan sholat subuh, aku terus berjalan dibelakangnya, dan ketika kami berdua sampai di mesjid ternyata sholat berjamaah sudah usai, akhirnya aku sholat subuh berjamaah dengan kakek itu, dan ketika aku salam tahiyyat akhir si kakek tetap bersujud dan ternyata si kakek telah meninggal dunia, lalu para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, bagaimana keadaan kakek ini di akherat?" Rasulullah menjawab, "Dia masuk surga" (HR Ahmad & Daruqutni).
3. Di tinjau dari hari terakhirnya (hari jum`at), begitu banyak orang-orang sholih yang meninggal dunia pada hari jum`at, karena mati pada hari jum`at adalah tanda kematian husnul khotimah.
Dari Ibnu umar Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Tiada seorang muslim yang meninggal pada hari atau malam jum`at, kecuali Allah akan menyelamatkannya dari siksa kubur" (HR Ahmad & At-Turmudzi).
Dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baik hari adalah hari jum`at, karena pada hari jum`at itulah Adam di ciptakan. Pada hari jum`at ia di masukkan ke surga dan pada hari jum`at ia di keluarkan dari surga. Pada hari jum`at ia wafat dan tidak akan terjadi kiamat kecuali hari jum`at" (HR As-Syafi`I dan Ahmad).
4. Di tinjau dari kondisi terakhir fisiknya. Kita sering menyaksikan seseorang meninggal dengan kondisi tubuh yang tidak wajar seperti tubuh gosong, penuh dengan luka dan nanah, berbau busuk, keluar belatung, lidah menjulur dan mata melotot atau bahkan tidak ada yang mau memandikan, mengkafani dan mensholatkan dll. Seseorang yang matinya husnul khotimah tidak akan mengalami kejadian-kejadian seperti diatas, malah sebaliknya seperti wajah mayit terlihat tenang dan damai bahkan ada yang tersenyum, banyak yang berta`ziyah dan mensholatkan dll.
Dari Abu Darda Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Tidak akan keluar ruhnya seorang mu`min sampai dia melihat tempatnya di surga, dan tidak akan keluar ruhnya seorang kafir sampai dia melihat tempatnya di neraka" (HR Al-Baihaqi).
Dari Aisyah Ra, Rasulullah bersabda: "Tidak satu mayit pun yang di sholatkan oleh seratus orang kaum muslimin dan semuanya memintakan syafa`at untuknya, pasti syafa`at mereka di terima" (HR Muslim)
Akhir kata, saya mohon maaf jika ada kata-kata yang salah atau menyinggung beberapa pihak. Saya sadar masih banyak ketidaksempurnaan dalam diri saya. Tulisan ini berasal dari hasil pemikiran, perenungan, diskusi dan beberapa artikel yang pernah saya baca, juga sebagai bahan renungan dan teguran buat saya pribadi. Marilah kita mempersiapkan kematian kita, karena orang yang paling cerdas adalah orang yang mampu mempersiapkan bekal kehidupannya di akhirat kelak. Semoga kita dapat dipertemukan di Surga Allah.
Aaamiin yaa Rabbal Alamiin...
Allahu a'lam bishowab.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh.
Sumber :
Al Qur'anul kariim
http://mind.donnyreza.net/seri-takdir
Berbagai Sumber
Rabu, 30 Juli 2014
Langkah pertama
Assalamu'alaikum warrahmatullah wabarakatuh.
Subhanallah wal hamdulillah, atas berkat rahmat Allah yang maha pengasih, yang nikmatNya selalu tercurah sampai detik ini hingga akhirnya terlaksana juga impian saya beberapa hari ini untuk memiliki blog pribadi.
Ya, walaupun sudah lama saya mengenal tentang web blog, tapi niat memiliki blog pribadi baru tercetus di otak saya beberapa hari belakangan ini, itupun karena memang gak tau mau ngapain lagi dirumah selama libur panjang idul fitri. Idul fitri tahun ini saya tidak mudik (read: pulang kampung) seperti idul fitri tahun-tahun sebelumnya dan akhirnya sayapun bisa merasakan apa yang mereka rasakan, para Kota-ers yang tidak memiliki kampung halaman atau ada kampung halaman tapi semua keluarga tinggal di Jakarta dan sekitarnya sehingga tiap kali idul fitri atau lebaran tidak perlu sibuk dengan tradisi mudik.
Hampir seminggu libur, setelah selesai menyatroni tetangga dan saudara2 untuk berlebaran saya sering terjebak dengan aktivitas yang bisa dikatakan kurang bermanfaat dan membosankan, tidur sepanjang hari, nonton tv, dengerin radio, atau Facebook an, tapi saya yakin I'm not the only one. Temen2 mungkin merasakan hal yang sama dengan saya.
Tapi alhamdulillah selain aktivitas yang saya sebutkan diatas, tentu ada aktivitas positif lain yang tetap saya lakukan, shalat 5 waktu pasti, baca Al qur'an alhamdulillah khatam 1 kali selama ramadhan, dengerin tausiyah baik di tv maupun radio, silaturahim kerumah kerabat, beres2 rumah, dan masih banyak lagi. Karena saya sadar waktu adalah harta yang paling berharga setelah keluarga (inget lagu keluarga cemara). Oleh karena itu, bijak dalam menggunakan waktu menjadi hal penting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Berangkat dari kekhawatiran saya tentang janji Allah mengenai waktu, bahwa kita semua adalah termasuk orang orang yang merugi kecuali orang yang beriman, beramal sholeh, saling mengingatkan untuk kebenaran dan saling mengingatkan untuk kesabaran. Hal ini mendorong saya membuat satu blog pribadi dimana saya dapat berbagi pengalaman, cerita, tips, atau kutipan-kutipan tausiyah yang pernah saya dengarkan. Saya memang gemar sekali share (Read :Berbagi) pengetahuan apa saja baik itu hal2 baru maupun yang sudah lama saya ketahui. Selama ini media saya untuk share adalah Facebook, namun banyak saya temui kendala ketika saya mau share tentang pengalaman atau kutipan2 tausiyah yang baru saya dengarkan, yaitu ada limit karakter yang bisa diketik, sedangkan saya tipe orang yang kalo udah nulis itu paling ga bisa di batas-batasin dan menurut saya juga kurang pas kalo share pengalaman pribadi di facebook dalam bentuk update status, ya kan.
Nah, blog ini lah akhirnya yang jadi pelabuhan terakhir saya. Semoga saja melalui blog ini saya bisa berbagi kebaikan, pengalaman dan hal lain yang mungkin saja berguna bagi teman-teman. Rasulullah mengatakan "sampaikanlah kebaikan walau hanya satu ayat", kalau sudah inget hadist ini saya langsung bersemangat untuk nulis status di media Facebook atau kirim pesan lewat sms, whatsapp, atau bbm. Karena sekarang udah punya blog nambah satu lagi media saya untuk menyampaikan 1 ayat kebaikan.
Wallahu a'lam bish showab.
Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamu'alaikum warrahmatullah wabarakaatuh.
Subhanallah wal hamdulillah, atas berkat rahmat Allah yang maha pengasih, yang nikmatNya selalu tercurah sampai detik ini hingga akhirnya terlaksana juga impian saya beberapa hari ini untuk memiliki blog pribadi.
Ya, walaupun sudah lama saya mengenal tentang web blog, tapi niat memiliki blog pribadi baru tercetus di otak saya beberapa hari belakangan ini, itupun karena memang gak tau mau ngapain lagi dirumah selama libur panjang idul fitri. Idul fitri tahun ini saya tidak mudik (read: pulang kampung) seperti idul fitri tahun-tahun sebelumnya dan akhirnya sayapun bisa merasakan apa yang mereka rasakan, para Kota-ers yang tidak memiliki kampung halaman atau ada kampung halaman tapi semua keluarga tinggal di Jakarta dan sekitarnya sehingga tiap kali idul fitri atau lebaran tidak perlu sibuk dengan tradisi mudik.
Hampir seminggu libur, setelah selesai menyatroni tetangga dan saudara2 untuk berlebaran saya sering terjebak dengan aktivitas yang bisa dikatakan kurang bermanfaat dan membosankan, tidur sepanjang hari, nonton tv, dengerin radio, atau Facebook an, tapi saya yakin I'm not the only one. Temen2 mungkin merasakan hal yang sama dengan saya.
Tapi alhamdulillah selain aktivitas yang saya sebutkan diatas, tentu ada aktivitas positif lain yang tetap saya lakukan, shalat 5 waktu pasti, baca Al qur'an alhamdulillah khatam 1 kali selama ramadhan, dengerin tausiyah baik di tv maupun radio, silaturahim kerumah kerabat, beres2 rumah, dan masih banyak lagi. Karena saya sadar waktu adalah harta yang paling berharga setelah keluarga (inget lagu keluarga cemara). Oleh karena itu, bijak dalam menggunakan waktu menjadi hal penting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Berangkat dari kekhawatiran saya tentang janji Allah mengenai waktu, bahwa kita semua adalah termasuk orang orang yang merugi kecuali orang yang beriman, beramal sholeh, saling mengingatkan untuk kebenaran dan saling mengingatkan untuk kesabaran. Hal ini mendorong saya membuat satu blog pribadi dimana saya dapat berbagi pengalaman, cerita, tips, atau kutipan-kutipan tausiyah yang pernah saya dengarkan. Saya memang gemar sekali share (Read :Berbagi) pengetahuan apa saja baik itu hal2 baru maupun yang sudah lama saya ketahui. Selama ini media saya untuk share adalah Facebook, namun banyak saya temui kendala ketika saya mau share tentang pengalaman atau kutipan2 tausiyah yang baru saya dengarkan, yaitu ada limit karakter yang bisa diketik, sedangkan saya tipe orang yang kalo udah nulis itu paling ga bisa di batas-batasin dan menurut saya juga kurang pas kalo share pengalaman pribadi di facebook dalam bentuk update status, ya kan.
Nah, blog ini lah akhirnya yang jadi pelabuhan terakhir saya. Semoga saja melalui blog ini saya bisa berbagi kebaikan, pengalaman dan hal lain yang mungkin saja berguna bagi teman-teman. Rasulullah mengatakan "sampaikanlah kebaikan walau hanya satu ayat", kalau sudah inget hadist ini saya langsung bersemangat untuk nulis status di media Facebook atau kirim pesan lewat sms, whatsapp, atau bbm. Karena sekarang udah punya blog nambah satu lagi media saya untuk menyampaikan 1 ayat kebaikan.
Wallahu a'lam bish showab.
Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamu'alaikum warrahmatullah wabarakaatuh.
Langganan:
Komentar (Atom)
