Minggu, 02 November 2014

Semakin bus ini melaju, semakin hilang semangatku

Diawali dengan kelulusanku dari sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta. Aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Tidak seperti kebanyakan teman-teman aku tidak pernah memiliki rencana untuk langsung bekerja selepas lulus sekolah, impianku sejak dulu justru ingin sekali melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi, setelah itu baru mencari pekerjaaan di perusahaan yang bonafit. Setiap hari mengenakan pakaian necis, terlihat sibuk didepan komputer, meeting sana-sini, dan sebagainya. Menjelang kelulusan aku semakin sering mengutarakan keinginanku pada orang tua untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi, hal ini tercermin pada seringnya aku memberikan brosur-brosur kampus kepada mereka yang entah aku dapatkan dari mana brosur-brosur itu. Aku tak pernah memikirkan apapun kecuali kuliah, kuliah dan kuliah saat itu.

Tapi dibalik itu semua, aku mendapati bahwa kenyataanya keluargaku bukanlah keluarga berada, orang tuaku menyampaikan bahwa mereka tidak akan sanggup membayar biaya kuliahku nanti. Aku langsung terpuruk kala itu, mamun dengan sisa-sisa semangat yang masih ada, aku mulai bangkit dari keterpurukan. Beberapa hari setelah menerima hasil kelulusan, Bapak memintaku untuk membuat sebuah surat lamaran pekerjaan. Sesuai informasi bahwa mantan bos Bapak sedang mebutuhkan sekretaris. Aku terhenyak, Sekretaris...???? yang bener pak? , ucapku. Seketika itu pikiranku melayang pada suatu keadaan dimana aku akan menggunakan pakaian necis dan sepatu hak tinggi setiap kali pergi ke kantor. Singkat cerita, setelah itu aku langsung diterima bekerja, Subhanallah wal hamdulillah... ucapku. Ternyata Allah menjawab semua keinginanku, inilah yang aku impikan selama ini. Bisa bekerja disebuah perusahaan yang terbilang bonafit, lokasinya pun di kawasan perkantoran mewah di bilangan Jakarta Pusat, gedung-gedung mewah pencakar langit menjadi pemandanganku setiap hari.

Beberapa minggu bekerja aku mulai menikmati keadaan. Namun, keadaan berubah ketika memasuki bulan kedua. Aku mulai merasakan tekanan dalam bekerja, atasan dan seniorku mulai banyak mendikte pekerjaanku. Aku mulai jenuh dengan rutinitas itu. Setelah berpikir panjang akhirnya aku putuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan itu. Singkat cerita, aku pindah bekerja ditempat lain dan akhirnya impianku untuk kuliah pun terwujud. Aku membiayai kuliahku dari gaji bulanan yang aku terima.

Masuk ke dunia kampus, membuatku semakin banyak koneksi dan informasi mengenai dunia kerja. Hingga suatu hari, aku ditawari untuk bekerja disebuah perusahaan dimana staf HRD nya adalah teman sekelasku. Entah mengapa tanpa pikir panjang aku langsung menerima tawaran itu, seolah-olah aku punya pandangan bahwa rezekiku banyak berada disana. Dengan modal nekat aku memutuskan untuk menerima tawaran itu dan bekerja di divisi Marketing. Walau temanku sempat bercerita divisi ini adalah divisi yang cukup menyeramkan karena managernya adalah orang Jepang langsung, juga pressure dari customer dan atasan bisa saja tiba-tiba membuat kita terkena penyakit thypus. Hahahaaaa....

Benar saja, baru sebulan bekerja di divisi ini aku langsung dirawat dirumah sakit karena demam berdarah. Dengan sedikit terpaksa aku mulai menikmati pekerjaanku sebagai marketing, namun hati seperti tidak bisa sepenuhnya aku berikan pada pekerjaan ini. Sempat  pada satu pagi didalam bus jemputan karyawan aku berkata dalam hati Yaa Allah... sungguh semakin bus ini melaju, semakin hilang semangatku. Rasanya aku tidak ingin cepat-cepat sampai di tempat kerja. Saat ini aku hanya bisa berserah diri kepada Allah, berpikir positif setiap hari, tersenyum pada rekan-rekan sekerja, dan selalu bercanda bersama mereka. Yaa,, mungkin hal-hal semacam itu yang membuatku bisa bertahan hingga detik ini.

Sampai suatu hari, untuk sekedar menghilangkan kejenuhan pada masa libur panjang idul fitri, aku menemukan satu ide untuk membuat sebuah blog pribadi. Karena aku gemar sekali berbagi melalui sebuah tulisan. Jujur, aku tergolong orang yang cukup sulit menggunakan skill verbalku. Mungkin hal ini pula lah yang membuatku lebih nyaman mengirim email kepada rekan kerja atau customer ketimbang berbicara langsung atau melalui telpon kepada mereka jika ada sesuatu yang ingin kusampaikan.

Setelah memiliki blog pribadi aku merasa senang sekali, tanpa diduga sebuah tulisanku membawaku menjadi pemenang sebuah lomba menulis. Sejak saat itu aku seperti menemukan gairah hidupku kembali yang sudah bertahun-tahun hilang. Aku semakin tidak bisa membohongi diriku bahwa passionku adalah menulis, karena dengan menulis aku bisa bebas meng-aktualisasi-kan diriku. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan lebih jujur. Akupun berencana  untuk menekuni dan belajar lebih banyak mengenai dunia menulis. Aku berharap suatu saat bisa menjadi seorang penulis hebat yang karyanya bisa berguna bagi pembaca.

Sebagai seorang muslim aku sangat memahami bahwa yang kita bawa ke akhirat nanti hanyalah 3 perkara. Yaitu, shadaqoh jariyah, doa anak yang soleh dan ilmu yang bermanfaat. Saat ini aku sedang mengusahakan ketiganya dan pada bagian ilmu yang bermanfaat bisa aku salurkan melalui passionku ini, yaitu menulis. Karena dengan menulis aku bisa berbagi ilmu yang in syaa Allah bermanfaat bagi orang lain.
Satu hal yang perlu diingat ketika kita percaya bisa melakukan sesuatu, dan yakin dengan melakukan sesuatu itu kita bisa menjadi hebat, maka percayalah bahwa sesuatu itu adalah passion.

Semoga bermanfaat.